
Assalamualaikum Buk Ibuk dan Sahabat, kali ini saya akan review novel yang mana ceritanya bisa jadi terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Seperti apa reviewnya, yuk, segera kita cek.
Judul: Maya di Balik Layar Ponselnya
Penulis: Reffi Dhinar
Penerbit: Sonar Pustaka
Cetakan: Pertama, Januari 2026
Jumlah Halaman: 198
Isi Buku
Cerita dibuka dengan kondisi keluarga Maya sepeninggal ibunya. Ayahnya yang tidak semangat bekerja, hingga resign menjadi dosen lalu beralih memilih menjadi guru honorer, merupakan gambaran betapa terpukulnya Raka, ayah Maya sepeninggal istrinya. Kondisi keluarga kecil yang tiba-tiba pindah kontrakan dekat kuburan juga menjadi sedikit problem, karena alasan ekonomi, sehingga harus menempati rumah di daerah itu, walaupun sebenarnya Maya dan adiknya, Ranu tidak setuju.
Kehidupan yang sulit membuat Maya tak ingin berakhir tragis seperti ibunya, ia ingin menjadi perempuan yang bisa menghidupi dirinya, punya duit, dan nggak kalah dengan anak orang kaya. Sehingga Maya yang anak keluarga biasa ini harus berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan beasiswa di sekolah favorit.
Walhasil, obsesi inilah yang kemudian mengantarkan Maya menjadi Mayra, kepribadian kedua, demi menjadi perempuan yang lebih ekspresif, kuat, dan mampu segalanya. Termasuk menjadi sosok perempuan seperti Kamila dambaan semua orang di sekolah.
Berbekal pintar dandan, Maya menjadi sosok Mayra yang jatuh hati pada Dirga. Namun, sosok Kamila menjadi bayang-bayang yang selalu berhasil merebut semua perhatian anak sekolahan termasuk Dirga.
Kompetisi modeling menjadi salah satu cara eksistensi Mayra. Saat menjadi Maya, ia harus kembali ke dunia nyata, menjadi ‘ibu rumah tangga’, memasak, membersihkan rumah, hingga mengurus adiknya, Ranu.

Maya sangat menikmati peran kedua yang terus ia mainkan. Hingga ia tak menyadari bahwa sahabat Kamila mengetahui kedoknya. Permainannya pun berakhir, studi Maya berantakan, hingga ayahnya memindahkannya ke sekolah lain.
Di sisi lain, Kamila yang penurut tiba-tiba menjadi pemberontak, dan menyalahkan kedua orang tuanya atas berbaga ipermasalah dirinya, seperti badan yang harus kutilang (kurus, tinggi, langsing), diet ketat, makan siang hanya dengan salad, hingga ia mengalami anoreksia. Kondisi tekanan ini membuat Kamila berakhir di IGD karena ia melukai dirinya sendiri.
Mayapun berinisiatif memperbaiki segala kegaduhan yang viral di media sosial melalui video yang ia posting. Maya tahu, bahwa yang dilakukannya salah, sehingga ia sadar dan menerima akibatnya.
Baca lagi:
Review Buku Kumpulan Opini Merdeka dalam Tanda Tanya
Review Buku: Patah Hati Tan Malaka
Pelajaran dari Novel
Novel Maya di Balik Layar Ponselnya ini sebenarnya merupakan gambaran bahwa anak-anak remaja jaman sekarang seringnya berkaca pada sosok yang dianggap sempurna, dan menggunakan parameter sosok tersebut pada dirinya sendiri tanpa melihat dan menilai apakah dirinya mampu atau bisa.
Persaingan dan nama baik serta populer di kalangan remaja ini merupakan hal penting yang hari ini terus berkembang dan sejatinya hal ini akan merusak diri sendiri, karena seseorang tidak akan menghargai dirinya sendiri. Ia hanya akan berkiblat pada sosok orang lain, padahal dirinya tidak mampu.

Gambaran Maya yang ingin menjadi Kamila hanya melihat hasil tanpa melihat proses, karena Maya pun tak pernah tahu bahwa seorang Kamila juga punya kekurangan, punya masa lalu yang tak ingin semua orang tahu.
Terkadang kita itu terlalu menominasikan seseorang tanpa kita tahu bagaimana usaha dan kekurangan orang tersebut. Kita juga harus memahami, bahwa setiap seseorang memiliki kelebihan dan keistimewaan. Allah telah memberikan anugerah itu pada setiap orang, tinggal bagaimana kita mampu menggali potensi dan kelebihan tersebut untuk dikembangkan. Sehingga kita akan mensyukuri apapun diri kita, dari keluarga mana kita dilahirkan, hingga perjalanan hidup kita.
Oya, novel ini layak direkomendasikan bagi pembaca remaja usia SMP dan SMA, agar memiliki pencerahan bahwa apa yang ada dalam pikiran dan tindakan kita itu tak selamanya harus sesuai dengan sosok yang diidamkan.




