Membangun Self-Care Para Ibu dengan Memasak
Assalamualaikum Buk Ibuk dan Sahabat. Apa kabar?? Masih semangat menjalani hari yaa?
Ceritanya saya itu kalau pagi-pagi setelah mengantar anak, suka melewati tempat-tempat yang dipenuhi orang, yaitu tempat belanja sayur. Ada beberapa titik penjual sayur dalam bentuk lesehan di tanah, pakai mobi, buka di ruko, atau depan rumah, lalu mulai yang aksesnya sepi pembeli dan lalu Lalang kendaraan hingga super macet dan susah untuk maju atau mundurin motor. Saya sudah pernah mengalaminya. Walhasil, saya masih tetap juga ke tempat para pedagang sayur itu, dengan alasan happy, karena selain harganya murah dan bervariasi, saya menyukai beragam pemandangan sayuran, buah, dan pernak-perniknya dan bisa enjoy banget belanja pagi-pagi, walaupun saya harus bawa belanjaan ke kantor dan diletakkan di motor.
Ya, itulah giat pagi hari saya, sehingga kalau sudah belanja, akan masak-masak sepulang ngampus alias setelah maghrib. Fenomena ini mungkin kerap sekali terlihat bagi para ibu-ibu, baik ibu-ibu yang bekerja di rumah atau di luar rumah, tetapi seringnya belanja sayur di sore hari sepulang kantor tetap menjadi solusi bagi para ibu untuk bisa menyiapkan hidangan dan masakan bagi keluarganya.
Di sela-sela kesibukan, saya yakin sekali bahwa para ibu pasti memikirkan bagaimana keluarga, suami dan anak-anaknya nggak tiap hari makan telur, mie, atau makanan beku (frozen food) terus menerus. Selain bosan, barangkali pertimbangan gizi, kesehatan, variasi makanan, menjadi salah satu aspek penting, agar keluarga selalu sehat dan semangat menjalani hari.
Baca juga:
Merangkai Bahagia Ala Ibu Bekerja di Luar Rumah
5 Cara Efektif Membaca Buku Bagi para Ibu
Hal yang tak kalah penting, secara tidak langsung, memasak ini sejatinya merupakan self-care seorang ibu. Bagaimana seorang ibu sangat arif memilihkan bahan makanan, mengolahnya dengan resep unik yang dimiliki hingga menjadi hidangan yang siap disantap keluarga. Hal ini tidak mudah, self-care ini muncul dan memasak merupakan bagian dari representasi kasih sayang seorang ibu kepada keluarganya.
Menurut saya, memasak, merupakan keahlian siapa saja, baik perempuan dan laki-laki. Berbicara memasak dalam konteks seorang ibu, hal ini merupakan bentuk kehangatan dan energi positif seorang ibu yang dituangkan dalam bentuk masakan. Saat proses masak, ibu akan membaui semua rasa, bagaimana sayur sop tercipta, tempe mendoan tercipta, semuanya dengan rasa. Ada racikan unik yang setiap ibu miliki, dan special terinternalisasi dalam masakannya.
Nah, ibu-ibu dan sahabat, ternyata membangun self-care ibu dalam memasak itu dalem banget ya? Bagi saya pribadi karena harus mengantar anak sekolah dan lanjut ke tempat kerja, memasak di pagi hari itu bener-bener effort. Jadi banyak hal yang harus dipersiapkan, yaitu:
1. Menyiapkan Niat
Yeyy, apapun itu, bagaimanapun itu, niat is number one. Pokoknya, kalau sudah niat menancap di hati, dipastikan 95% akan diikuti oleh tindakan nyata. Buktinya, pagi ini saya berhasil memasak sop, menggoreng tahu dan telur dadar, perkedel, merebus telur, dan masak nasi dengan cepat dan berhasil berangkat dari rumah sebelum jam 6 pagi. Fantastis ‘kan? Soalnya ada niat tadi, sehingga seseorang akan sangat prepare dari malam hari untuk bangun pagi dan segera memasak.
2. Menyiapkan Bahan Makanan
Nah, salah satu hal yang penting adalah menyiapkan bahan makanan yang akan dimasak. Saya itu sepulang ngampus, akan bongkar belanjaan, potong-potong sayuran, tata rapi dan masukkan kulkas, besok pagi tinggal diolah saja, terkadang bawang-bawangan sudah saya bersihkan semua agar memudahkan kerjaan.
Baca juga:
5 Rekomendasi Novel Perempuan Tangguh Bagi Para Ibu
3 Cara Menghasilkan Cuan Ala Ibu-ibu Masa Kini
Ibuk-ibuk dan Sahabat. Membangun self-care dalam memasak itu sebenarnya sudah dilakukan oleh para ibu lho, seperti hal berikut:
1. Dapur sebagai Sarana Mengekspresikan Diri
Dapur menjadi tempat yang sangat ekpresif dan nyaman bagi seorang ibu untuk mengolah masakan, membumbui dengan aneka macam bumbu, lalu menghasilkan aroma yang menggugah selera. Saat resep tercipta dan termanifestasi dalam bahan makanan dan diolah, maka timbullah kelegaan dalam diri, karena telah berhasil mengolah hidangan. Dapur bisa menjadi sarana untuk mengekspresikan segala bentuk rasa yang dirasakan seorang ibu.
2. Memasak sebagai “Me Time”
Untuk mengatasi Lelah pasca bekerja, memasak adalah solusinya, walaupun tidak semua orang ingin menghabiskan hari untuk memasak setelah bekerja di luar rumah, akan tetapi memasak menjadi penghilang stres dan lelah saat bekerja. Ketika aroma tercipta, organ-organ kita akan ikut merasakan betapa rasa itu akan membantu ibu untuk mengurangi lelahnya dan mengembangkan hormon bahagianya.
3. Merawat Diri Sendiri
Salah satu alasan saya memasak adalah agar saya bisa terus makan menu favorit saya, seperti pecek terong bakar, pecel, sop, tempe mendoan, dan lainnya. Sehingga, secara tidak langsung self-care akan tercipta melalui masakan yang saya olah.
Buk Ibuk dan Sahabat, self-care dalam bentuk memasak ini merupakan rutinitas para ibu-ibu dimanapun berada. Dapur sebenarnya tidak hanya menjadi ruang domestik, tetapi ia bisa menjadi ruang-ruang transformatif yang membantu kita untuk menyalakan energi positif, lebih bahagia, tumbuh, ekspresif, dan menciptakan keajaiban-kaejaiban dalam hidup.




