
Judul: Patah Hati Tan Malaka (Sebuah Novel)
Penulis: Iput Syarafuddin
Penerbit: Rain Book
Cetakan: Pertama, Januari 2026
Jumlah Halaman: 292
Membaca Tan Malaka bagi saya seperti mengenal sosok bersahaja yang terus berpikir tentang kesejahteraan rakyat. Jujur, saya belum mengenal sosoknya secara sejarah. Melalui novel yang ditulis Bang Iput, gambaran sosok Tan Malaka menjadi sebuah titik awal perkenalan saya dengan segala sepak terjang Datuk Ibrahim Tan Malaka.
Isi Cerita
Kisah seorang Ibrahim yang mendapatkan kesempatan untuk mengenyam bangku Hollandsch Inlandsche School (HIS), yaitu sekolah elit bagi anak Belanda, Tionghoa, Arab, dan anak pribumi bangsawan/pegawai pemerintahan yang ada di kota Bukittinggi. Syarat masuk sekolah ini bukan hanya pandai, namun punya selembar surat rekomendasi. Walhasil, seorang Ibrahim kemudian berhasil belajar di HIS untuk menjadi guru bersama kedua teman pribuminya, Abdul Muis dan Syarifah Nawawi.
Selama bersekolah ternyata Ibrahim menaruh hati pada Syarifah Nawawi, gadis keturunan Arab. Ia berusaha merebut perhatian dan hati Syarifah, namun Selepas lulus HIS, Syarifah meminta agar Ibrahim terus belajar dan menjadi orang.
Ketika Ibrahim kembali ke kampung halamannya, ia dihadapkan oleh dua pilihan, kawin atau menerima gelar datuk. Mau tak mau akhirnya ia menerima gelar datuk karena tak mau menghianati kata hati dan cintanya pada Syarifah. Iapun bergelar Ibrahim Datuk Tan Malaka, pelindung keluarga Sinabur, Piliang, dan Chaniago.
Kedatangan guru Horensma yang membawa berita bahwa Ibrahim lolos mendapat beasiswa untuk sekolah guru di Harlem menjadi titik tolak perjalanan intelektualnya dimulai. Singkat kata, Ibrahim Datuk Malaka mulai melalang buana untuk belajar di negeri orang.
Dalam rentang waktu yang cukup lama, Tan Malaka banyak mengalami pergolakan dalam diri dan masyarakat dimana ia berada, yang akhirnya ia keluar dari sekolah beasiswanya dan mulailah perjalanan membangun intelektualnya bermula dengan berbagai bumbu kehidupan. Bertemu orang-orang baru, membangun solidaritas, hingga pahit getirnya kehidupan ia sudah rasakan.

Selama melakukan perjalanan kehidupannya, Tan Malaka bertemu dengan beberapa perempuan yang secara tidak langsung memberikan warna dalam kehidupannya, mulai dari Fenna Struijvenberg seorang murid Rijks Kweekschool yang berpikiran radikal dan penyuka buku. Selanjutnya Nona Carmen seorang putri rektor di sebuah universitas Filipina berdarah Spanyol Filipina. Ketika di Tiongkok ia juga bertemu dengan Gadis AP yang sedang dirundung masalah kawin paksa.
Perjalanan intelektualitasnya bersatu dengan berbagai masalah seputar kondisinya yang sakit-sakitan, bolak balik di bui, hingga akhirnya ia berhasil menginjakkan kaki lagi ke kampung halaman dan bertemu ibundanya Rangkayo Sinah.
Baca juga:
Aroma Karsa: Aroma Kehendak Dalam Cinta
5 Rekomendasi Novel Perempuan Tangguh Bagi Para Ibu
Hal Menarik dalam Novel
Bagi saya, saat sejarah diramu menjadi novel, tentunya sangat sulit untuk membedakan the real cerita dan sejarah. Patah Hati Tan Malaka ini menurut saya bisa dilihat dari dua sisi. Sisi pertama, bagaimana Tan Malaka benar-benar patah hati saat dekat dengan beberapa perempuan, terutama Syarifah Nawawi, selain itu pertemuan terakhir dengan ibundanya juga memberi gambaran patah hari tokoh. Sedangkan sisi lainnya adalah bagaimana Tan Malaka merasa sedih saat dirinya harus berakhir dengan kematian tragis oleh bangsanya sendiri, di saat ia memberikan jiwa dan raganya pada mereka.
Novel ini menjadi menarik bagi saya saat penulis bercerita tentang dunia cinta Tan Malaka yang selalu berakhir dengan luka. Menurut saya novel Patah Hati Tan Malaka ini cocok dibaca oleh pembaca usia dewasa dikarenakan isi novel yang cukup berat dan jujur memahami novel sejarah itu tak mudah. Semoga bermanfaat.




