Laily Fitriani adalah Mom Blogger, penulis sekaligus pengajar di jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Pegiat literasi ini menyukai dunia tulis menulis dan traveling.
https://www.pexels.com Kala rindu merasuk di jiwa Getaran kotamu mengajakku pulang Udara segar nan dingin Suasana yang nyaman Membawaku untuk kembali datang Sebuah kota kecil di tapal kuda Pesona alam…
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Selamat pagi para Moms di seluruh dunia. Mengawali pagi dengan penuh keceriaan dan semangat penting banget lho. Bahwa menjadi ibu adalah sebuah peran yang dinanti-nanti oleh semua…
https://www.pexels.com Memasuki era millennium, dunia berubah dengan cepat. Masih saya ingat kala saya duduk di bangku kuliah di tahun 1998-2002, internet adalah barang mahal, mahasiswa kala itu harus pikir…
Mengenangmu dengan berjuta ritme hidupku Guru, ada makna dalam setiap bimbinganmu Simbol kebermaknaan hidup Melalui ejaan kata dan kalimat-kalimat cintamu Malang, 24 Nopember 2016 (10.00)
Mencintai adalah sebuah denyut nadimu Berguruku pada engkau duhai guruku Bersamamu kujalani lingkaran-lingkaran huruf nan tersaji dipikiranku Ada cinta dalam setiap ujaran Bagiku engkau sang dermaga pengetahuan Yang arif dan…
https://www.pexels.com Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh Siang Moms Sayang Menjalani hidup tanpa hutang itu serasa dunia milik kita yah? hew..hew..hew… Berbicara kebutuhan, ternyata terkadang kita itu besar pasak…
Merindukan hujan bagaikan siluet terindah untuk anak-anak kami Lihatlah…nun jauh disana ada banyak tempat kering kerontang menabuhkan nyanyian lara Ada susah menyapu butiran keringat yang tercekat tak lagi mengalir Kami…
Ibu… Doaku terpanjatkan diakhir malam-malamku Mengharapkan ridho Ilahi untuk memberimu segenap kekuatan, kesehatan, kebahagiaan di sepanjang hayatmu Ibu… Doaku selalu terpanjatkan untukmu disela-sela isak tangis membelah malam Aku selalu ingin…
Ibu…. Pada paruh hidupku yang kian lemah Aku tetap mengharapmu untuk selalu ada di sisiku Menemaniku setiap waktu Menemaniku menjalani kehidupan Menemaniku dalam suka maupun duka Duhai ibu… Betapa engkau…
Sepanjang hari aku hanya menunggumu Berbekal catatan lurus nan ragu Perlahan kulihat titik kecil Mengarah ke daratan Engkaukah itu? Berapa Purnama sudah bergulir Padahal janjimu telah terjalin Akankah engkau melupakan…