
Pexels.com
Berbicara generasi Z pastinya berkaitan dengan banyak generasi masa kini yang super heboh, keren dan memiliki karakter yang berbeda jauh dengan generasi-generasi sebelumnya. Menurut Wikipedia, generasi Z merupakan generasi yang lahir setelah generasi Y, yaitu mereka yang lahir dalam rentang waktu tahun 1998-2010.
Kalau melihat rentang tahun kelahirannya, generasi ini di tahun 2020 berumur 10-22 tahun dan benar-benar masih muda. Saya kebetulan bergelut di bidang pendidikan perguruan tinggi. Generasi Z ini kini yang berusia 22 tahun sedang duduk di bangku kuliah S1 dan sebagian besar juga telah ada yang lulus S2 hingga berencana ada yang akan melanjutkan studi S3. Keren banget ya? Sebuah pencapaian yang super fantastik dalam dunia pendidikan kita.
Jika dikaitkan dengan bonus demografi Indonesia, bahwa Indonesia di tahun 2030 akan mengalami bonus demografi, yaitu usia produktif kerja (15-64) di Indonesia akan mencapai 68,1%, dalam artian sumber daya manusia (SDM) Indonesia akan meningkat. Sehingga tidak salah bila Presiden kita memfokuskan pada pembangunan SDM dalam hal pendidikan dan kesehatan. Dampaknya dari segi pendidikan adalah munculnya SDM baru yang masih fresh graduate dan telah menyandang gelar pendidikan tertinggi pada level doktoral dan profesor. Saya optimis, Indonesia di 2030 prosentase SDM doktoral dan Profesor akan sangat banyak.
Membangun komunikasi ini tidak mudah. Namun, sejatinya siapapun bisa berkomunikasi dengan baik, karena ada banyak faktor yang menjadinya proses komunikasi ini sulit dilakukan bagi generasi Z. Pastinya peran keluarga, teman, masyarakat, media, dan lainnya berperan aktif dalam membentuk pola komunikasi generasi Z ini.
Saat ini, generasi Z tentunya sedang menikmati proses pendidikan dan pembelajaran. Setiap individu dalam generasi Z ini pastinya memiliki beragam karakter, beragam keinginan dan semuanya berbeda jauh dengan kita, terutama saya yang lahir di rentang tahun 70’an. Sebagai pendidik, tentunya saya punya tips bagaimana membangun komunikasi ala generasi Z ini, yaitu sebagai berikut:
1. Pahami Psikologis Anak
Tugas pendidik tidak hanya mengajar, namun juga mendidik. Sebelum memberikan saran dan masukan pada generasi Z, seyogyanya kita harus memahami psikologis anak atau generasi Z ini. Generasi ini cenderung menyukai hal-hal baru yang menantang, lebih dekat dengan dunia internet, berpandangan luas dan menerima pemikiran baru, suka berinvestasi dan beberapa sifat lainnya. Nah, satu hal yang harus kita tahu adalah, pahami psikologi generasi ini. Sehingga kita mudah untuk melakukan konfirmasi berbagai hal (tabayun) serta memberikan saran dan masukan.
2. Edukasi Tanpa Menggurui
Edukasi tanpa menggurui ini penting banget. Kebanyakan generasi Z inginnya bebas, mandiri, dan mereka lebih realistis dalam segala hal. Sedangkan saya berada pada generasi X yang durasinya berada pada tataran waktu yang jauh dan sangat berbeda. Edukasi tanpa menggurui pada generasi Z ini bisa membantu memasukkan nasehat-nasehat dengan perlahan.
3. Memberikan Role Model
Memberikan role model ini pada generasi Z sangatlah penting. Sebagai generasi X yang berbasis pada pengalaman, tentunya saya harus memberikan gambaran kepada para generasi Z dalam hal ini, mahasiswa saya tentang role model. Biasanya pertemuan pertama dalam perkuliahan saya selalu menyelipkan role model tentang betapa pentingnya mencari ilmu, apa yang harus dilakukan sebagai mahasiswa agar tidak selalu menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang, kuliah pulang) sehingga dengan pengalaman saya, pengalaman siapapun yang saya ceritakan akan memberikan peran penting dalam kehidupan generasi Z ini terutama dalam membangun komunikasi.
Nah, membangun komunikasi pada generasi Z ini memang perlu waktu, tidak langsung instan, sebab tugas seorang pendidik adalah memberikan arahan (taujih) dan sesekali waktu membiarkan anak didik untuk melakukan kesalahan (trial and eror), sehingga mereka mengerti apa kesalahannya. Kemudian kita memberikan arahan (taujih) kembali. Hal yang harus dihindari bagi seorang pendidik adalah mengabaikan untuk selalu memberikan arahan (taujih) pada anak didiknya. Semoga sebagai pendidik ananda, siapapun kita diberikan kekuatan, kesabaran dan tetap menjadikan sebagai ladang amal sholih kita. Amin Allahumma Amin.





5 Comments. Leave new
Terimakasih untuk pembahasannya, saya generasi Y dan punya adik yang skrg berada di generasi z membuat saya kudu lebih byk update. Seperti misalnya apa aja yang perlu di ketahui untuk menyeleraskan informasi yang pas buat saling komunikasi hehe.
Bener banget Mbak. Saatnya kita juga menyesuaikan diri yaa?
[…] 3 Tips Membangun Komunikasi Ala Generasi Z […]
[…] 3 Tips Membangun Komunikasi Ala Generasi Z […]
[…] 3 Tips Membangun Komunikasi Ala Generasi Z […]