
Ruang tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika di Bandung
Salah satu tempat favorit yang wajib saya kunjungi adalah museum. Yap!, museum adalah bagian dari sejarah, dan kebetulan sekali saya suka sejarah, saya suka menghafal nama-nama tokoh dalam sejarah hingga jalan ceritanya. Tak pelak sayapun pernah mengampu matakuliah sejarah Sastra Arab dan saya enjoy mengajarnya, alhamdulillah.
Berbicara sejarah, tentunya tak lepas dari masa lalu. Benang merah sejarah hingga negara kita ada dan berdiri hingga generasi saat ini. Museum sebagai wadah pemberi informasi sejarah juga turut andil dalam membangun prespektif masayarakat dan generasi kita.
Salah satu museum yang saya kunjungi adalah Museum Asia-Afrika yang bertempat di Gedung Merdeka kota Bandung. Gedung tua yang terletak di pusat kota dengan dominasi aksen warna putih sepintas tak terlihat seperti museum.

Gedung tempat berlangsungnya Konferensi Konferensi Asia Afrika
Berawal dari adanya seminar Internasional Bahasa Arab di UNPAD Bandung, saya mendapat tiket tour ke Museum Konferensi Asia Afrika sebagaimana yang telah direncanakan oleh panitia Seminar. Alhamdulillah, di pagi yang cerah pada hari Jumat saya dan rombongan seminar menuju pusat kota dengan kendaraan kota khas Bandung, yaitu bandros.
Bandung memang luar biasa menarik dengan banyaknya gedung-gedung kuno seperti gedung sate, rumah kentang dan beberapa gedung kuno yang sempat saya lewati. Pusat kota pagi itu sangat ramai. Rombongan pun berhenti di pinggir jalan merdeka. Di jalan ini saya sempat berfoto sembari duduk-duduk melepas penat. Kemudian rombongan masuk ke Gedung merdeka tempat Konferensi Asia Afrika di gelar.

Ruangan tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika
Museum Konferensi Asia Afrika ini dibuka setiap hari Selasa hingga Minggu, kecuali hari Senin dan tanggal merah libur. Pengunjung dapat datang secara berombongan atau sendiri. Kita bisa pilih kapan saja untuk berkunjung ke museum Konferensi Asia Afrika ini.

Jadwal Kunjungan ke museum
Saat berada di ruangan beranda museum, saya disambut dengan diorama saat presiden Soekarno berpidato dan para tokoh-tokoh perdana menteri luar negeri peserta konferensi.

Diorama beranda Museum Konferensi Asia Afrika
Saya mengisi buku tamu, lalu mengambil gambar di area beranda museum. Saya sempat berkeliling dan takjub melihat barang-barang langka era konferensi saat itu yang sedang di gelar. Berbagai barang seperti kamera, mesin cetak foto dan berbagai surat kabar yang muncul membuat saya sangat ingin membaca dari satu etalase ke etalase yang lain. Benar-benar mengasyikkan, seakan sejarah kembali berputar.

Regestrasi dulu disini yaa?

Etalase berita tentang Konferensi Asia Afrika
Selain itu saya bersama rombongan kelompok sempat memasuki ruangan pemutaran film dokumenter selama kurang lebih 10 menit, kemudian memasuki gedung utama tempat dihelat Konferensi Asia Afrika kala itu.

Ruangan tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika
Ruangan semacam aula yang sangat luas dengan berbagai bendera luar negeri ditambah dengan kursi kayu berbahan jati dengan dudukan berwarna merah. Menurut para guide, kursi-kursi ini sebagian masih asli dan sebagian sudah dimodifikasi dan dibuat seperti aslinya guna memberikan kesan keberadaan ruangan yang dibuat persis seperti saat Konferensi Asia Afrika digelar dulu.
Mengulik sejarah bangsa itu sangat penting, sebab kita harus memiliki yang namanya sikap ‘Jas Merah’, yaitu Jangan sekali-kali Melupakan Sejarah. Nah, museum adalah salah satu media penting bagi generasi Indonesia untuk menghargai jasa pahlawan serta mengenal berbagai sikap kepahlawanan dan sepak terjang para pahlawan yang telah memberikan andil untuk memberikan sumbangsih, kedamaian, dan pemikiran terbaik bagi seluruh negara.
Menurut saya, museum dapat digunakan sebagai media edukasi yang cocok banget untuk mengenalkan kepada ananda kita tentang pentingnya sejarah bagi kehidupan masyarakat. Sehingga ananda memiliki rasa penghargaan yang tinggi pada para pahlawan bangsa dan mengerti tentang perjalanan sejarah bangsa.
Museum saat ini telah berbenah, jadi tak lagi tampil dengan suasana mencekam, justru dengan adanya guide museum membuat saya nyaman, bahkan bisa bertanya-tanya juga, dan saya benar-benar menikmati irama sang guide yang sangat hafal menceritakan sepak terjang para tokoh selama proses Konferensi Asia Afrika berlangsung.

Ketemu guide disana lho
Semoga saya bisa mengajak ananda untuk mengunjungi museum Konferensi Asia Afrika di Bandung ini. Semoga bermanfaat. Yuk, kunjungi museum Indonesia.


44 Comments. Leave new
Suka berkunjung ke museum ya?
Betul Mbak
Aku blm pernah ksana mba, mkch ya udah diajak jalan jalan virtual ke Museum Asia-Afrika semoga pas ke Bandung bisa mampir kesana dan belajar banyak disana.
Siaap Kak. Menarik kok…yuk, ke museum.
Museum Asia Afrika ya Mbak,, wah semoga next time bs ngajak anak² jg ya. Saya juga jd pingin nih Mbak,, setelah baca ulasan Mbak Laily ini… Btw udah mulai event internasional offline lg kah Mbak?
Oya kapan ke Medan, Mbak .. banyak museum juga, ada museum uang juga lho^^
Iya Mbak…doakan bisa ke Medan. Ini acara tahun 2018 Mbak.
hebat kalau suka berkunjung ke museum, apalagi kalau lihat faktanya museum di indonesia kurang menyenangkan, terkesan suram gitu. Tapi museum asia afrika ini sepertinya terawat
Banget Mbak Utari, terawat banget dan nggak seram.
aku juga suka banget ke museum2 dan bangunan bersejarah gitu..seru banget!
Sama Kak
Sejak dudul di bangku sekolah dasar saya tahu tentang Konferensi Asia Afrika diselenggarakan di Bandung tapi beberapa kali ke Bandung tidak menyempatkan diri ke sana ….. malah yang dicari kuliner2 Bandung. Padahal bagus juga ya sesekali ke sana.
Iya Mbak…yuk berkunjung
saat ke bandung tahun lalu, aku sempat ajak anak anak ke museum ini mbak
anak anak senang
berkunjung ke museum bisa menjadi media anak belajar sejarah secara menyenangkan ya mbak
Betul banget Mbak Dian. Saya pun suka banget, insya Allah pengen ngajakin anak-anak.
Di palangkaraya sini juga ada museum mba, tapi kok hawanya atau auranya agak2 takut gitu kalau masuk museum di sini. Soalnya pernah ada yg bilang senjata-senjata suku Dayak yang ada di musemu bergerak sendiri. Haduhhh….
Tapi kalau di Bandung, museum KAA ini enggak horor kan ya
Menurut saya karena sebagai wisatawan luar Bandung menurut saya nggak. Memang museum hawanya cenderung begitu yaa?
Sama nih kayak mba Indri. Aku benernya seneng lho ke Museum, ta bacain tuh satu-satu informasi yg ada di Museum. Tapi engga suka Museum yg ada dioramanya, patung-patung orang gitu. Kebawa ngayal, takut aja tau-tau gerak. Haha…Jadi kalau ada diorama, kulewatin cepet-cepet…wkwkwk…
Btw…aku di Bandung. Emang bagus kok Museum Asia Afrika tsb…
Wah, siip Mbak. Iyap kadang diorama menyimpan rasa bagaimana gitu, so, be positif aja Mbak, soalnya sayapun begitu.
Bagus ya, Mbak.
Jadi ingin melancong kesana.
Benar sekali, dengan merevitalisasi dan merubah tampilan museum jadi lebih segar..menambah daya tarik terhadap wisatawan. Terlebih lagi menaikkan rasa ingin tahu anak-anak terhadap sejarah bangsa.
Iya Mbak, sehingga wisatawan nyaman juga datang ke museum, dan museum pas banget untuk pembelajaran anak-anak.
Wah, makasih infonya mba. Semoga suatu saat bisa ke sana, apalagi anakku suka berkunjung ke museum. Akibat pandemi, Museum-museum di dekat rumah (Sangiran dan clusternya) belum buka hampir setahun. Semoga bisa segera beroperasi kembali. Btw, seumur hidup aku belum pernah ke Bandung mba, hihihi…
Semoga ya Mbak? Ini pas perjalanan sebelum pandemi juga Mbak. Saya juga baru sekali ke Bandung Mbak.
Ahhh, jadi pengen ke Museum Asia Afrika Bandung. Dulu pernah ke sana, tapi pas ikut rombongan pejabat. Lagi dinas kerja. Jadi enggak bisa leluasa lihat ini itu. Ke Bandung lagi, dua tahun lalu, tapi juga ikut rombongan tur. Pas mau ke sana, enggak sempat gegara kelamaan kena macet di jalan. Pas musim liburan sih.
Sama sih Mbak, saya juga pas ada acara. Alhamdulillah karena destinasi hanya ke museum KAA jadi lumayan lama.
Belum pernah ke bandung, nih. Ruang konferensinya gede banget ya kayaknya.
Banget Mbak. Yuk, ke Bandung.
Kebetulan belum pernah kesini, padahal suka lewat dan terkagum aja sama bangunannya. Thanks mba, jadi tahu kaya apa dalamnya
Yuk, masuk Mbak.
aku pernah ke musem asia afrika bandung pas masih lebih muda dari sekrang. sekitar tahun 2012, duh zaman2 itu banyak teman2 kampus seluruh indonesia di satu komunitas forum indonesia muda. kami berjalan2 di bandung salah satunya ke sini mbak. seneng deh jadi nostalgia wkwk
Wah…udah lama ya Mbak? Alhamdulillah.
Saya sudah pernah mengunjungi dua musium mbak, monumen Jogja kembali dan musium Merapi. Memang membawa pelajaran teesendiri dengan mengunjungi musium, jadi tahu bagaimana sejarah terjadi dan bisa menjadi bahan renungan juga buat kita di masa kini dan yang akan datang.
Betul banget Mbak. Saya belum pernah ke museum Jogja nih.
Sedih banget, aku belum pernah masuk Museum KAA.
Padahal uda tinggal di Bandung 11 tahun.
Pernah ikutan Night at Museum, tapi gak masuk museumna waktu itu…karena antri banget.
Wah, Mbak Lendy sebagai orang Bandung harus ke museum KAA nih.
Terima kasih mbak laily, saya jadi bisa tahu kaya apa dalemnya Museum Asia Afrika ini, biasanya tahunya lewat TV, itupun dari luarnya saja. Eh punten mbak laily, saya mau tanya, bekal apa saja yang harus dikuasai orang tua untuk mengenalkan museum kepada anak. Dulu sebelum pandemi anak-anak saya ajak ke Museum Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Nah, saya pun juga baru pertama, karena saya adalah pendatang dari Jawa Tengah. Melihat anak-anak ke Museum, sepertinya tidak ada rasa antusias kedalam diri anak saya, huhu. Oleh sebab itu saya bertanya dalam diri, ini apa yang harus saya lakukan. Mungkin dari sudut pandang mbak laily bisa memberikan jawabannya. Haturnuhun
Wah, menarik sekali pertanyaan Mbak. Saya tiga kali juga ngajak anak-anak ke museum Brawijaya di kota saya, Malang, Blitar dan museum kalau ndak salah tentang pelayaran di Blitar. Tipsnya kalau saya membriefing anak-anak sebelum ke museum bahwa nanti disana kita akan belajar tentang sejarah bangsa, ini pas banget dan berkaitan dengan pelajaran sejarah. Kebetulan anak sulung saya suka sejarah, jadi dia suka dan antusias membaca betul berbagai informasi di museum. Kalau kedua anak saya lainnya karena masih kecil sedang duduk di kelas 1 MI dan TK A saya tetap bilang bahwa museum ini bercerita tentang apa dan lumayan berhasil ke museum ini, minimal mereka menganal masa lalu dan sejarah Mbak.
Ortu bisa memberikan arahan seputar isi museum, tidak menyentuh barang-barang, mencatat beberapa hal penting atau memotret (jika diperbolehkan).
Udah lamaaaa banget saya gak jalan-jalan ke museum. Bener banget di mata saya kesan museum itu mencekam. Tapi baca tulisan ini saya jadi penasaran dengan keadaan museum jaman sekarang. Semoga memang jauh lebih menarik.
Betul Mbak, diantara waktu pas ke museum adalah saat pagi dan siang menurut saya. KAA ini bagus kok.
Semoga saya bisa mengajak ananda untuk mengunjungi museum Konferensi Asia Afrika di Bandung ini.
Amin Mbak, sayapun begitu nih, ingin eksplor Bandung bersama keluarga.
Ternyata wisata ke musium bisa semenarik ini, ya mbk. Jadi ingin kesana deh.
Oh yah, buat teman-teman yang ingin membuat guest post bisa banget loh di web kami. Kami tunggu tulisan teman-teman, ya!
Iya Kak
Excellent points altogether, you simply won a new reader. What might you suggest in regards to your publish that you made a few days in the past? Any certain?