
Foto dokumen pribadi
Assalamualaikum Bunda dan Sahabat. Kali ini sengaja saya ingin menuliskan masa-masa kebersamaan saya dan ananda pertama, Kakak (si sulung) yang duduk di kelas 6 di Sekolah Dasar Islam di bilangan kota Malang.
Memasuki kelas enam, tentu saja saya sebagai Uminya selalu deg-deg an, khawatirnya nanti kalau ujian bagaimana dan sebagaanya kerap menjadi pikiran. Pasalnya si Kakak ini jaraaang banget belajar. Sttt… sejak kelas 1 SDI dulu, si Kakak selalu belajar jikalau mau ujian aja. Hampir setiap waktu kami, orang tuanya mengingatkan kalau belajar harus setiap hari, belajar tidak hanya di waktu ulangan saja, dan malam sebelum sekolah buku-buku harus ditata dan disiapkan. Entah kenapa si Kakak sukanya selalu dadakan. Sempat berpikir apakah karena anak laki-laki begini ya? Saya rasa nggak juga. Tipe kakak yang super aktif juga membuat belajarnya berbeda, jadi dia punya gaya belajar sendiri, kebetulan si Kakak adalah anak dengan tipe kinestetik dan visual, sehingga audionya kurang. Saya punya perhatian tersendiri untuk si sulung ini.
Fakta lain, si Kakak hobi banget menggambar. Beda anak, beda pula karakter dan hobinya ya?. Nah, anak pertama saya, si Kakak ini sejak usia 2 tahun dia sudah bisa menggambar mobil dengan garis lurus, garis lengkung diatas dan dengan dua roda. Dia sangat suka menggambar mobil. Makin bertambah usianya, dia menyukai gambar animasi dan suka membuat komik sendiri. Sehingga akhir-akhir ini koleksi bukunya dari serial detektif menjadi serial Komik. Awalnya kakak sangat hobi membaca. Ia memiliki buku-buku serial detektif lalu Komik Si Juki dan komik karya Boim Lebon. Saya melihatnya menyukai komik dan si Kakak bahagia banget saat buku-buku itu bisa terbeli.
Selain itu yang bikin gemes, si Kakak suka menggambari hampir seluruh buku-bukunya. Semua buku tulisnya di bagian belakang ia gambar, atau buku tulis yang tebal mendadak jadi tipis gara-gara bagian tengahnya dicabut untuk digambari, sampai kertas ujian semester pun digambar, hingga membuat Bu Gurunya lapor pada kami, orang tuanya. Ada-ada saja ide Kakak ini. Pernah pula hasil gambar ranger kesukaannya dibeli teman-temannya dengan harga 2 ribu rupiah dan si Kakak sudah sangat senang. Pernah pula saat ulang tahun dapat hadiah buku tulis, sedik demi sedikit habis untuk menggambar dan sukanya membeli buku gambar. Pernah terlintas, saya akan membukukan hasil gambar-gambarnya atau akan berkolaborasi nanti di buku saya, namun belum terealisasi, doakan yaa?
Selain itu, Kakak ini suka banget cerita. Ia akan bercerita tentang apa saja. Biasanya sepulang sekolah saat saya menjemputnya, diatas motor Kakak akan bercerita tentang teman-temannya, ibu guru, sebab ia menangis di kelas hingga rencana yang disusun tentang makanan atau minuman yang sedang ia inginkan, pasti ia selalu ingin beli dan alhamdulillah terbeli, dengan syarat besok tidak beli lagi, walhasil dia besok beli lagi dengan benar-benar menyisihkan uang sakunya hari itu.
Nah, saat duduk di kelas enam, mengingat track record kakak yang kurang fokus belajar, kamipun berinisiatif untuk memberinya kelas tambahan yaitu les matematika, karena Kakak kurang di mata pelajaran matematika, sedangkan saya nggak bisa matematika. Kalau urusan pelajaran agama dan umum si Kakak sudah oke semua, dan saya bisa membantu untuk mengajarinya. Walhasil, kakak ikutan les selama satu jam setiap Sabtu lalu vakum lama. Kemudian saya memberinya les kembali pada teman dan hanya berlangsung dua bulanan, lalu vakum sebab si pengajar pindah rumah. Akhirnya si Kakak belajar sendiri hingga datanglah gelombang corona yang membuat pembelajaran beralih ke rumah.
Selama pembelajaran daring saya selalu menemani kakak belajar. Mulai absensi online di google form setiap hari, mengerjakan tugas dari Quizis dan TVRI, menulis jawaban tugas dan mengirim tugas-tugas melalui aplikasi WA, membuat video, dan mengerjakan ujian online. Kesemuanya saya menemaninya hingga menyelaesaikan berbagai tugasnya walaupun pernah terlambat setor tugas juga, he..he..
Alhamdulillahnya, ujian akhir nasional (UAN) ditiadakan sebab pandemi sehingga secara otomatis Kakak telah lulus sekolah. Saya bersyukur banget. Kemudian wisuda tahfidz sekolah juga ditiadakan dan akhirnya kakak melakukan wisuda online.
Wisuda online merupakan alternatif yang bisa dilakukan oleh pihak sekolah dalam rangka melepas siswa-siswinya. Alhamdulillah kegiatan wisuda online melalui aplikasi zoom Kakak lancar. Kegiatan wisuda online ini sama layaknya wisuda offline, dimulai pukul 08.30 hingga pukul 12.00. Rasa haru mulai menyeruak tatakala orang tua diminta untuk menyematkan pin kepada para anandanya sebagai simbol bahwa ananda telah diwisuda dan tugas sebagai siswa SDI telah berakhir. Kemudian satu-persatu siswa dipanggil untuk berfoto via zoom.
Keesokan harinya, Kakak bisa bertemu dengan Ibu Bapak Guru dan teman-temannya dengan prosedur pandemi. Kakak berfoto dengan toga, mengambil raport dan surat keterangan hasil belajar dan berpisah dengan Ibu Bapak Guru. Hari itu, saya melihat Kakak sangat bahagia bertemu dengan Ibu Bapak guru, sahabat dan teman-teman SDI nya, karena selama berada di rumah saat covid-19 praktis Kakak tinggal di rumah tidak keluar dan bertemu teman-temannya.
Alhamdulillah, perjalanan pendidikan Kakak di SDI telah usai. Kini, Kakak sedang melanjutkan pendidikan di tempat baru yaitu Pondok Pesantren di bilangan Kota Malang. Pondok Pesantren ini dipilih kakak selain karena Abinya alumni disana, juga Kakak ingin tinggal di Malang saja. Alhamdulillah, hari ini adalah hari ke-24 Kakak berada di Pondok Pesantren untuk menimba pendidikan demi masa depannya dan masa depan umat. Semoga Kakak tetap menjadi anak yang sholih, sehat dan bermanfaat untuk agama, keluarga dan umat. Amin Allahumma Amin.
With all our heart, special for Kakak (si Sulung), we love you forever.
(Umi tulis dengan penuh derai airmata)

