
“Love u geudael tteoollimyeo ije dasi kkok nuneul gamjyo
Saranghae geudae du nun chaeul su itdamyeon
Saranghae geudae naege useum boyeojundamyeon
Jeogi byeolbitmajeodo modu gajyeoda jultende
Saranghae ireon nae mam jeonhal su itdamyeon
Saranghae geudae geu mam gareuchyeo jundamyeon
Na modu darmagalkkeyo love u love u love u geudaeyo”
(OST Boys Before Flowers)
Nina menghela napas, perlahan bulir airmatanya jatuh, segera diusapnya dengan tisu yang dipegangnya. Jujur lagu Korea satu ini selalu bisa membawanya ingatannya pada seseorang. Perlahan semangkuk Bimbimbap telah terhidang di hadapannya
“Maaf, ibu pesan Bimbimbap dan Minyeok Guk?”. Seorang pelayan restoran meletakkan hidangan Korean Food dan Daechu Tea ke arahnya. Perlahan Nina mengangguk dengan senyuman yang dipaksakan, ia merasa pelayan tadi tahu hatinya sedang mendung.
“Ah, persetan dengannya” bisiknya. Dicicipinya hidangan Minyeok Guk sup favoritnya dengan sepenuh hati. Nina sengaja datang ke restoran ini, Albi bilang, ini adalah restoran Korea paling sip yang ia rekomendasikan pada Nina. Terbukti Korean Halal Foods di restoran ini ternyata benar-benar bikin Nina ketagihan.Apalagi suasana restoran yang luas dan nyaman serta pengunjung yang tidak terlalu banyak membuat Nina betah berlama-lama disini.
Sebagai pemakan sayuran, Nina selalu berusaha meminimalisir karbohidrat, terutama nasi putih, tapi kali ini ia ingin mencoba Bimbimbap yang direkomendasikan Albi, tentunya setelah mengabadikan dua makanan dan satu minuman lewat kamera androidnya. Ya, pasca belajar memotret secara online, Nina sedikit demi sedikit mulai mempraktikkan keahlian amatir yang dimilikinya.
Selesai menyantap hidangan, Nina mencoba menuliskan tentang testimoninya melahap hidangan ini melalui tulisan lepas di blog yang ia miliki. Kebetulan menulis life style adalah salah satu jenis niece blog yang ia gemari. Selain memilih jalur life style, jalur review buku adalah keahlian yang tengah ia tekuni. Baru saja ia bergabung dengan grup blogger perempuan, Nina merasa ia harus banyak menimba ilmu, ia seakan perlu booster menulis dari teman-teman seprofesinya. Terkadang ia masih merasa belum pantas menyematkan sebutan blogger pada dirinya, namun semua keinginan menulisnya sedang naik ke ubun-ubun sehingga semangatnya yang membara insya Allah akan membawanya pada lahirnya sebuah karya. Baginya menulis seakan menjadi dunia barunya.
Nina kembali memandangi foto lukisan Jason yang sengaja ia pasang di screen laptopnya. Sebuah danau dengan bunga-bunga Teratai di tengah yang sedang bermekaran laksana hamparan permadani berwarna putih. Nina tersenyum getir mengenang semua.
“Teratai ini melambangkan hatimu,” ucap Jason sembari menyerahkan lukisan pada Nina yang tiba-tiba membuat hatinya berdesir saat rintik hujan berjatuhan.
“Thanks Jason”. Nina masuk ke dalam rumah menyimpan baik-baik lukisan hadiah sahabatnya. Lalu Nina keluar sembari menghidangkan teh hijau favorit Jason.
Tak ada lagi cerita Jason soal lukisan. Ia yang kerap kali bercerita soal keindahan panorama, bunga-bunga serta tumbuhan liar yang ia tuangkan dalam kanvas. Yap, bagi seorang pelukis seperti Jason mengepakkan sayap untuk lebih tinggi itu sangat penting. Ia pun melanjutkan master seni rupanya ke Bristol di University of The West of England. Bagi hidup Nina, tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Ia siap untuk long distance relationship, tapi ia meragukan Jason.
“Aku akan mencobanya Jason” bisik Nina saat sore itu.
“Tapi aku nggak bisa Nin. Aku tak akan mengikatmu untuk masalah ini. Jika kita memang berjodoh, biarlah takdir akan mempertemukan kita”.
***
“Bi, aku sudah mencobanya, hidangannya enak banget,” kata Nina pada Albi saat mereka bertemu di parkiran sepulang kerja.
“Bagaimana menurutmu? Enak?” jawab Albi sembari membuka pintu mobilnya.
“Sepertinya cocok di lidahku Bi, udah tiga kali aku makan di sana,” senyum Nina sembari celingukan menunggu ojek online nya
“Menu favoritmu apa?,” Albi menatap gadis sawo matang di hadapannya. Ia terlihat semakin manis dengan anak rambut yang jatuh ke dahinya.
“Semua menunya jadi favoritku, dan pastinya Daechu Tea juaranya” senyum Nina mengembang.
“Pokoknya aku itu penyuka teh jenis apapun Bi” bisik Nina sembari membuka gawainya.
“Yakin nggak bareng aku?,” Albi membuka kaca jendela mobilnya perlahan.
“Nggak. Thanks ya Bi,” Nina memasang wajah dengan memohon. Ia tahu Albi sudah banyak bekorban untuk dirinya. Saatnya ia berusaha menyelesaikan persoalannya sendiri, terutama move on dari sosok Jason. Sejurus kemudian Albi berlalu meninggalkan Nina sendirian yang masih setia menunggu ojol dari depan kantor yang akan membawanya pulang.
Keterangan:
Bimbimbap: Masakan Korea yang terdiri dari nasi putih, lauk, sayuran, daging dan telur dengan campuran saus pedas gochujang, mirip nasi campur.
Minyeok Guk: Sup dari rumput laut kering, daging sapi dan minyak wijen.
Daechu Tea: Teh yang terbuat dari olahan buah Jojoba, sejenis buah kurma khas Korea yang memiliki zat besi tinggi, cocok diminum bagi orang yang menderita anemia dan mengurangi rasa capek.
Semoga suka ya? ini tulisan lama, ingin dilanjutkan. Bersambung di edisi berikutnya? Ada yang penasaran nggak nih?


4 Comments. Leave new
Lanjutkan, Bund,
Waah,,,insya Allah Mbak…eman tulisan lama
Semangat auntyy
Terima kasih Iffah