Review Novel Elena

April 10, 2019

Buku Elena (Foto dokumen pribadi)

Saya benar-benar dengan akhir perjalanan sang tokoh "Elena" dalam hidupnya. Bagaimana ia bisa mengubah jalan hidup menuju kebaikan. Sosok Elena bagi saya memberikan gambaran bahwa ada banyak perempunan yang memiliki segala macam persoalan dalam hidup. Bagaimana ia bisa survive mengisi hidupnya dan bagaimana ia mendapatkan titik balik dalam hidupnya. 

Bagi saya Mbak Ellya Ningsih menjadi inspirator bagi saya untuk terus menulis menyelesaikan tulisan-tulisan saya dan bergabung di komunitas. Saya salut dengan komunitas dimana Mbak Ellya berada saat karya "Elena" diluncurkan pertama kalinya. 

Oh ya waktu itu saya juga mendapatkan kartu pos berisikan kata-kata mutiara yang syahdu dan ngena banget di hati saya.

"Tidak ada jalan hijrah yang mudah
harga surga tidaklah murah
Allah sedang menguji kejujuran tobatmu
maka bersabarlah
Allah yang memberi ujian
Allah yang memgang kunci jawaban
Ujiannya berbeda-beda sesuai tingkatan
Tapi, percayalah Allah tidak memiliki sifat zalim
Allah tahu kadar kekuatan kita
dan tidak akan menguji di luar batas kemampuan"

Kartu pos dalam novel Elena


Judul                                        : Elena
Penulis                                     : Ellya Ningsih
Penerbit                                   : Kata Depan
Genre/Kategori                       : Novel
ISBN                                       : 9786025713651
Tahun terbit & Cetakan          : 2018/2
Harga buku                             : 75.000,-

Elena, sebuah judul novel debutan Mbak Ellya Ningsih, seorang Ibu Rumah Tangga yang bergabung di sebuah komunitas menulis online tengah booming di nusantara. Novel yang telah dua kali cetak ini mampu menghipnotis kaum Ibu dengan mengangkat cerita keseharian yang bisa terjadi di masyarakat, yaitu kisah seorang wanita yang terpaksa menikah dengan pilihan orang tua lantaran kekasih yang dipilihnya tak disetujui orang tua, sehingga belum bisa ‘move on’ dari sang kekasih walaupun telah bersuami. Dengan bahasa yang santun dan lembut, novel ini berhasil menanamkan nilai-nilai Islam tanpa kesan menggurui, terutama berkaitan dengan ketaatan pada Allah, kesabaran dalam menjalani hidup, menggapai surge dan ridho Ilahi.

Cerita berawal dari sosok Elena yang sedang ketinggalan dompet saat ia dan anaknya membeli es krim di sebuah minimarket. Itulah saat pertama Eugene, mantan kekasih Elena bertemu setelah pencarian selama 7 tahun yang tak membuahkan hasil. Walhasil, Elena seakan terseret untuk kembali ke masa lalunya, apalagi Eugene sangat menyukai Al, anak Elena dan ia sangat ingin tahu bahwa apakah Al darah dagingnya atau bukan. Akan tetapi Elena tetap mempertahankan keimanannya, tak mungkin ia akan terperosok untuk kedua kalinya. Elena berusaha menepis semua masa lalunya. Dengan bantuan Abah dan Umi, orang tua Safitri, mantan istri Ibnu ia berhasil memperbaiki dirinya untuk menjadi muslimah yang taat dan istri yang selalu mendapat ridho suami.

Konflik terjadi saat Ibnu, suami Elena memutuskan menikah untuk kedua kalinya disebabkan ia tak bisa memadu kasih dengan Elena lagi sejak kelahiran Al, bayi bermata biru yang telah divonis bahwa Al bukan anaknya. Sejak kehadiran Adinda, istri edua Ibnu, Elena kerap kali cemburu. Ia lebih banyak mengalah dan memilih merawat Maryam anak Ibnu dengan Safitri yang telah menganggapnya Ibu. Konflik lain terjadi saat Elena tahu bahwa Eugene telah berislam dan ingin bersamanya, namun Elena tetap memgang janji bahwa pernikahan adalah perjanjian dua manusia dengan Allah dan ikatan itulah yang membawa Elena pergi mengubur masa lalu dan Eugene. Elena telah memilih Ibnu, pintu surga yang telah digengamnya.

Novel ini bercerita tentang cinta yang dibangun pada sang Maha Cinta. Ketika seseorang telah mencintai atas nama Allah, maka cinta pada dunia tak ada artinya. Cinta yang dibangun Elena menggambarkan bahwa untuk menuju cinta pada Ilahi membutuhkan banyak ujian, pengorbanan serta kesabaran dalam mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga. Buku ini layak untuk dibaca oleh para suami istri sebagai pengingat bahwa pernikahan adalah perjanjian yang sakral dan membutuhkan cinta untuk menyiraminya dengan terus memupuk cinta pada sang Maha Cinta.



You Might Also Like

0 komentar