Rekam Jejak Korrie Layun Rampan

April 15, 2019

Buku 1 (Foto dokumen pribadi)


Beberapa bulan lalu saya mengikuti giveaway youtube Mbak Dhonna yang berhadiah buku. Hadiah buku adalah salah satu objek yang cukup saya buru he..he…pejuang giveaway saya nih ya? Nah, singkat kata saya adalah satu dari tiga pemenang. Mbak Dhonna sendiri yang mengantar buku sebagai hadiah ke kampus dikarenakan rumah beliau dekat dengan kampus, sayangnya saya pas mengajar dan ada acara, sehingga tak bisa bersua dengan beliau. Saya sangat berterima kasih sekali kepada Mbak Dhonna, karena telah memberikan hadiah buku yang berjudul “Kenang Korrie: Korrie Layun Rampan (1953-2015). Seorang sastrawan terkenal asal Kalimantan dan saya tidak tahu banyak tentang perkembangan sastrawan Indonesia, khususnya sastrawan daerah. Namun Pak Korrie ini berbeda dari para sastrawan kebanyakan. Yuuk, disimak yaa review saya:

Judul Buku          : “ Kenang Korrie: Korrie Layun Rampan”
Pengarang          : RM Sunny, dkk
Genre Buku        : Bunga Rampai
ISBN                      : 9786025805417
Penerbit              : Jaringan Penulis Kaltim (JPK) bekerjasama dengan Araska Publisher Yogyakarta
Tahun                   : 2018
Tebal buku          : 210

Korrie Layun Rampan adalah sastrawan yang berasal dari Dayak Benuaq. Semasa hidupnya beliau mengawali masa sebagai sastrawan sejak masa kanak-kanak dengan menulis puisi dan puisinya sudah dibacakan di RRI Samarinda. Setelah lulus sekolah menengah, Korrie pun merantau ke Yogyakarta. Beliau menjadi mahasiswa sembari bergabung dengan Persada Studi Klub, sebuah klub sastra yang diasuh oleh Umbu Landu Paranggi. Semenjak bergabung dengan klub sastra ini, bakat Korrie makin terlihat.

Selanjutnya Pak Korrie tahun 1978 bekerja sebagai wartawan di Jakarta dan editor di sejimlah penerbit. Kemudian beliau juga pernah berprofesi sebagai penyiar RRI dan TVRI studio pusat, mengajar, redaktur Majalah Sarinah.

Pada tahun 2000 an Pak Korrie pulang kampung dan bertekad membangun Kalimantan dengan berprofesi sebagai pemimpin umum redaksi koran Sentawar Pos dan juga mengajar di universitas Sendawar Melak Kutai Barat Kalimantan Timur. Selain itu, pada tahun 2004-2009 Pak Korrie menjadi anggota dewan legislatif, namun posisi ini tak bertahan lama, selanjutnya beliau kembali menjadi sastrawan.

Pak Korrie pulang kampung sengaja untuk membangun daerahnya melalui karya sastra yang beliau buat. Beliau adalah sosok sastrawan besar yang rela membesarkan nama para sastrawan dan penulis daerah. Beliau berhasil mengumpulkan serta menerbitkan antologi cerpen, puisi, dan esai bersama para penulis daerah. Hajatan besar Pak Korrie adalah Dialog-Borneo-Kalimantan XII pada tahun 2011 yaitu pertemuan sastra antar negara satu pulau. Dalam acara ini sekaligus dilauching 4 kumpulan karya pengarang Kalimantan.

Sebagai sastrawan peraih berbagai penghargaan, Pak Korrie masih memikirkan keberlanjutan ruang sastra publik bagi generasi bangsa. Beliau berkeinginan membuat “Bengkel Sastra” di belakang rumah beliau, namun saying keinginan beliau belum terpenuhi lantaran beliau telah tiada.

Daftar Isi Buku (Foto dokumen pribadi)

Buku “Kenang Korrie” ini berupa bunga rampai yang terdiri 3 bagian, yaitu Bunga, Kopi dan Kacamata. Bagian 1, Bunga berisi berbagai naskah puisi tentang sosok Pak Korrie. Bagian 2, Kopi berisi kumpulan cerpen tentang pengalaman nyata para penulis bertemu dan belajar bersama Pak Korrie. Bagian 3, Kacamata berisi tulisan-tulisan para penulis tentang pandangan mereka pada sosok Pak Korrie beserta sejarahnya. Semacam penelitian strukturalisme genetik, yaitu penelitian yang menekankan pada struktur kalimat dengan melihat sisi genetik pengarang serta keadaan historis pengarang dan zaman kala itu.

Buku ini mengupas sisi sosial, kemanusiaan dan budaya yang khas dan tergambar pada karya sastra Pak Korrie. Beliau banyak memberikan unsur lokalitas pada cerpen-cerpen yang ditulisnya, sebagai bentuk kritik dan kemanusiaan beliau terhadap alam dan masyarakat Dayak Kalimantan Timur. Buku ini muncul sebagai penghargaan khusus mengenang sosok satrawan luar biasa yang membumi dan mau mengabdikan diri pada daerah. Salut untuk beliau. Semoga kita para generasi milenial bisa mengikuti jejak Pak Korrie. Selamat jalan Pak Korrie, semua sangat merindukanmu.

Terima kasih tak terhingga untuk Mbak Dhonna yang telah mengenalkan saya pada sosok Pak Korrie Layun Rampan.




You Might Also Like

0 komentar