Cerita Di Awal Pagi

Januari 21, 2019

www.pixabay.com


Januari, hujan terus mengguyur
Diriku ikut tercebur, namun bukan dalam lumpum
Demi ananda, semangat pagi harus tumbuh subur

Sajak diatas pas banget buat saya yang sepagi itu mengantar kedua ananda berangkat sekolah ditemani guyuran air hujan, Allahumma soyyibannafi’an. Ceritanya, setiap pagi rutintas Abi yang mengantarkan kedua ananda yang kebetulan berbeda sekolah, yang Kakak pertama di Sekolah Dasar Islam (SDI) dan Kakak kedua di Madrasah Ibtidaiyah (MI).

Jarak rumah yang lumayan jauh dari sekolah membuat proses pagi kadang-kadang penuh suara. Terkadang posisi kakak-kakak yang kurang cepat membuat jarum jam terus bergerak dan jadwal molor. Walhasil perjalanan harus nambah ‘ekstra’ cepat plus  dan sedikit ngebut ya? Karena naik motor padahal…oh…yang namanya jalan…padat, apalagi tadi pagi saat hujan, jalanan yang biasanya longgar mendadak macet dan padat luar biasa. Akhirnya, saya harus ekstra pelan-pelan.
Karena Abi hari ini kurang enak badan dan butuh istirahat, kena bapil ya? (semoga cepat sembuh Abi), jadi tugas saya sebagai Uminya harus mengganti tugas Abi. Jalanan yang super duper bikin kening berkerut harus saya jalani dan Alhamdulillah sampailah di sekolah kakak kedua lalu saya masih meneruskan perjalanan menuju sekolah kakak pertama.

Seru banget ‘petualangan’ pagi dengan bersimbah hujan gerimis yang tipis-tipis. Hujan masih saja memayungi kota, namun semangat seorang Umi demi ananda tercinta tak kan pudar, selamanya.

Pagi Penuh gerimis
Semangat tak akan tertepis
Demi mengantar ananda nan manis
Malang, 22 Januari 2019

You Might Also Like

0 komentar