Berkunjung Ke Bumi Rencong Serambi Makkah

Agustus 16, 2018

Sehabis Seminar


Pada tanggal 15 Juli 2018 yang lalu atas izin Allah saya berkesempatan melakukan perjalanan yang jauh dari Malang ke BBanda Aceh. Perjalanan dengan pesawat ditempuh dengan dua penerbangan, Malang-Jakarta, dan Jakarta-Aceh. Alhamdulillah, perjalanan lancar.
Kedatangan saya di bumi Rencong dalam rangka Seminar Internasional IMLA (Ittihad al-Mudarrisin li al-Lughah al-‘Arabiyah) sebuah organisasi internasional bagi para pengajar (dosen-dosen) Bahasa Arab.
Setelah berseminar, tiba saatnya melakukan berbagai tour menuju beberapa destinasi wisata yang ada di Aceh. Saya berkesempatan melakukan kunjungan ke Kapal PLTD Apung, Musium Tsunami dan Masjid besar Baiturrahman.
Nah, simak keempat tempat destinasi kunjungan saya ya?
1.       Kapal PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) Apung

Kapal PLTD Apung di tengah kota

Kapal PLTD Apung merupakan kapal pembangkit listrik tenaga diesel yang dibuat di Batam dan pembangunannya selesai pada tanggal 15 Oktober 1996. Kapal dengan berat 2800 ton ini mampu memasok listrik sebesar 10.5 mw untuk kebutuhan masyarakat kota Banda Aceh dan sebagian kabupaten Aceh besar. Kapal PLTD ini telah memberikan sumbangsih yang besar terutama dalam hal memasok listrik yang terjadi disebabkan oleh beragam gangguan listrik di beberapa pulau-pulau Indonesia, diantaranya sejak tahun 1997 Kapal PLTD Apung telah berlayar ke Pontianak untuk menyelesaikan krisis listrik, pada tahun 1998 berhasil mengatasi krisis listrik di Bali yang diakibatkan oleh kabel bawah laut, tahun 2000 berhasil mengatasi krisis listrik di Madura dan pada tahun 2003 berhasil mengatasi krisis listrik di Aceh. Ketika Tsunami terjadi, kapal ini terseret kurang lebih 5 km dari darat dan berada di Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru-Banda Aceh, namun kondisi mesin masih bagus. 

Kondisi Badan Kapal PLTD Apung sekarang

Sehingga pemerintah setempat ingin menjadikannya sebagai destinasi wisata, sehingga, saat saya memasuki badan kapal ini, semua kondisi kapal masih bagus. 

Kapal PLTD Apung yang menjadi ruang edukasi masyarakat

Di dalam kapal dibuatlah edukasi-sedukasi terkait pengetahuan tentang apa itu tsunami? Bagaimana cara terjadi tsunami? Dan apa yang harus dilakukan bila terjadi tsunami melalui program digital yang dapat dipelajari oleh masyarakat dengan bantuan seorang pemandu wisata yang handal bercerita seputar kejadian saat tsunami beserta keadaan kapal pasca tsunami. Selain itu di dalam kapal saya menjumpai beberapa kesaksian dari para saksi hidup saat tsunami tiba dan video saat tsunami terjadi 14 tahun yang lalu yang sangat mengharukan. Saya tak kuasa menahan tangis. Rata-rata rombongan wisatawan dari luar Aceh banyak yang meneteskan airmata mengingat peristiwa tsunami ini.

Museum Tsunami Aceh
Museum Tsunami dibangun sebagai bentuk mengingat peristiwa yang terjadi setelah tsunami hebat yang melanda Aceh di tahun 2004. Saat saya akan memasuki pintu depan museum, seorang pemandu wisata (perempuan, seusia saya) memberikan aba-aba bahwa saya dan rombongan akan memasuki jalan semacam terowongan yang gelap dan cukup untuk dua orang (jika berjalan berdampingan). Terowongan dalam kondisi basah dan kami akan merasakan percikan-percikan air. Bismillah, akhirnya saya berjalan di keremangan dengan aba-aba sang pemandu yang berhati-hati karena lantai basah dan Ya Allah, saya disambut dengan suara orang-orang yang berdzikir. Dzikir ini terjadi pada saat mereka mencari perlindungan dari tsunami di masjid Jamik Baiturrahman. Saya merinnding, airmata menetes, saya merasa manusia tak ada apa-apanya dihadapan Allah SWT Dzat yang Maha Agung. Terowongan berujung di sebuah ruangan yang cukup luas dengan beberapa montor-monitor kecil dimana kita bisa melihat video tsunami yang terjadi. Lagi-lagi airmata saya berderai. Kemudian saya melanjutkan perjalanan menuju sebuah tempat semacam kamar luas yang disemua temboknya terukir nama-nama para syuhadak yang wafat saat tsunami, lalu saya menuju ke ruangan untuk menonton tayangan tentang video tsunami selama kurang lebih 10 menit. Setelah itu saya menuju galeri foto-foto. Nampak foto –foto para anak-anak korban tsunami yang kini telah dewasa dan berhasil bangkit pasca tsunami. Kemudian saya menuju lantai dua. Di lantai dua ini berisi tentang foto-foto, barang-barang dan diorama tsunami.
Sang pemandu wisata bercerita tentang pengalamannya terselamatkan dari tsunami dan peristiwa hilangnya adik perempuannya. Kemudian, saya melihat foto kapal yang hinggap ke atap rumah, berbagai barang-barang yang diselamatkan saat tsunami seperti jam dengan lonceng, al-Qur’an, mesin jahit, sepeda pancal, sepatu dan lain sebagainya. Mereka adalah saksi mati atas terjadinya peristiwa tsunami. Lalu saya juga melihat diorama-diorama tsunami sebagai bagian dari edukasi agar khalayak tahu apa itu tsunami. Setelah itu saya menyempatkan berfoto di beberapa spot cantik di lokasi Museum Tsunami. Museum ini sangat banyak pengunjung, terutama wisatawan domestik.

3.       
Suasana di dalam Masjid Baiturrahman

Saya memasuki sebuah masjid dengan konsep yang berbeda. Setelah menuju area penitipan sepatu/sandal di lantai 1 dan berwudlu saya naik ke lantai 2 untuk menuju ke masjid. Jarak antara halaman masjid ke masjid kurang lebih 5 meter. Saya berjalan dengan berpanas-panas ria, sesegera mungkin menuju masjid. Suasana masjid sangat ramai, saya berkesempatan memunaikan solat dhuhur bersama teman di  tengah-tengah jamaah yang hilir mudik memasuki masjid. Beberapa menit kemudian saya ikut menunggu teman saya yang akan kedatangan temannya di pondok dulu. lalu saya berkesempatan untuk berfoto di dalam dan luar masjid.

4.       Pusat belanja Pernak-pernik
Kalaulah anda berwisata dan menginjakkan kaki ke suatu daerah, belumlah afdhol kiranya bila tak pulang dengan membawa buah tangan. Nah, selain di beberapa lokasi wisata ada tempat belanja, saya berkesempatan menuju ke daerah pusat belanja pernak-pernik khas Aceh di pusat kota banda Aceh. Dari gantungan kunci, tas, kotak pensil, aneka kopi Aceh nan terkenal hingga kain Aceh tumpah ruah dan siap dibawa pulang, asalkan harus menyediakan budget yang sesuai pula ya?

Nah, itu dia kunjungan saya selama 4 hari di tanah Rencong Aceh. Ingin rasanya suata saat nanti saya bisa bertandang untuk kedua kalinya untuk melihat sisi keindahan pariwisata hngga masyarakat yang ramah dan indah. Semoga bermanfaat.

You Might Also Like

0 komentar