Monolog Diri: Hidup dan Mati Milik Allah Semata

Juni 19, 2017


Hidup mati hanya milik Allah semata. Sebagai manusia kita hanya mampu berikhtiar, semampu kita. Sebatas kemampuan manusia yang berbatas. Hidup mati adalah rahasia Allah, pemilik segala kekuatan, manusia hanya mampu menggerakkan kehendak untuk menjadi hamba terbaik di hadapan Allah. Kekuatan manusia yang berbatas menggerakkan segala kekuatan yang dimilikinya untuk berlomba meraih kebaikan-kebaikan untuk bekal hidup abadi di akhirat.

Betapa di batas ikhtiar manusia terbentang ke-Maha Kuasaan Allah, pemilik jiwa-jiwa hamba-Nya yang senantiasa berucap ucapan-ucapan thoyyibah untuk merenda kekuatan dalam diri. Kemanusiaan manusia-manusia tergerak untuk meraih cahaya ilahi bagai pelita sinaran pagi yang jatuh di embun pagi.
Selaksa makna teruntuk orang-orang terkasih yang pernah ada di sekeliling kita, merajut silaturahmi dan ukhuwah secara suka, penuh cita dan cinta. Hidup memang adalah sebuah perjuangan yang tak kan berhenti berputar, menggerakkan roda-roda terus berputar tak kan berhenti meski onak dan duri merajam roda-rodanya. 

Semangat hidup untuk orang-orang terkasih yang masih ada di sekeliling dan hati kita adalah perjuangan sebenarnya yang harus kita jalani , melangkah terus, pantang menyerah pada keadaan, berusaha tegar menghadapi pergulatan hidup yang penuh misteri. Itulah upaya-upaya kebaikan kita yang harus ditebarkan selama nafas masih dikandung badan. 

Semoga orang-orang yang telah mendahului kita menjadi hamba-hamba Allah yang khusnul khotimah, kelak akan menanti kita di surga-Nya. Percayalah, perjalanan yang tersisa mari kita isi dengan menyebar aroma wangi kesturi cinta dan kasih pada sesama, melalui pergulatan hidup dengan senyuman, menyapa indahnya dunia dengan semangat dan optimis hidup, berserah diri pada Allah dan berkhusnudhon bahwa Allahlah  pencipta hikmah dibalik segala peristiwa hidup kita. 

Epilog: selamat jalan….Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu. 

You Might Also Like

0 komentar