JILBAB DAN DEDAK

Juni 27, 2017




Saat itu aku masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah. Semua siswi diwajibkan berjilbab bila hendak bersekolah, namun bila di luar rumah terkadang jilbab hilang entah kemana, tergantung pribadi si pemakai juga ya….kadang jilbab  hanya dipakai untuk keperluan sekolah dan mengaji saja, selebihnya tidak. Bisa dikatakan kewajiban mengenakan jilbab menurut saya ada dua hal, yaitu apakah sekedar untuk menggugurkan kewajiban berjilbab di sekolah saja, ataukah benar-benar ingin berjilbab dari hati sesuai perintah Allah SWT? Mungkin saja pandangan orang  ada yang mengatakan bahwa masih anak-anak tidak apa-apa tidak berjilbab, padahal banyak yang remaja dan sudah baligh juga ya?  Faktor dukungan dari keluarga menurut saya juga sangat penting, sebab keluarga adalah orang nomor satu yang sangat memahami kita dan memberikan support agar seluruh anggota keluarga itu bersemangat dan menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.
Kala itu jilbab dan berjilbab bukan hal yang sedang digandrungi dan ngetrend serta  terkenal seperti saat ini, kalau kita lihat di seluruh pelosok daerah, pemandangan wanita berjilbab menjadi sangat biasa. Di daerah saya dulu, siswi berjilbab hanya diwajibkan bagi mereka yang bersekolah di madrasah saja, di sekolah umum jarang didapati siswi yang berjilbab. Berbeda dengan sekarang, jilbab memiliki banyak fungsi, diantaranya sebagai kewajiban seorang muslimah yang mentaati perintah Allah SWT, ikut trend dan juga sebagai kelengkapan fashion. Waktu itu, saya hanya memiliki koleksi dua jilbab putih dan satu jilbab coklat untuk kelengkapan seragam sekolah dan beberapa jilbab instan dari benang wol yang cukup simpel dengan tali yang diikat ke belakang leher khusus jilbab mengaji saya. Sehingga bila saya pergi mengaji dan ada angin kencang berhembus , wusss…leher dan dada saya jadi  kelihatan. Namun saya tetap bersemangat untuk mengenakan jilbab bila hendak keluar rumah.
Suatu hari di siang yang sangat terik,  seperti biasa Ayah meminta agar saya untuk mengambil pesanan dedak (makanan ayam) di penggilingan padi milik Bu Lik saya yang berada di desa sebelah. Perjalanan sekitar setengah jam saya tempuh dengan bersepeda onthel (sepeda angin). Saat itu saya ber azzam untuk berusaha bila hendak keluar rumah wajib memakai baju panjang dan berjilbab, walaupun dirasa  lucu juga ya? ada anak perempuan berjilbab membawa dedak di belakang sepedanya, karena di daerah saya biasanya Bapak-bapak yang melakukan pekerjaan ini. Saya langsung menyanggupi permintaan Ayah,  karena tidak ada orang lain di rumah saya yang bisa membantu Ayah. Adik laki-laki saya saat itu bersekolah di Pondok Pesantren dan adik laki-laki saya yang lain masih kecil. Akhirnya bismillahirrahmanirrahim saya berangkat dengan mengenakan baju panjang dan jilbab.  Ayah dan Ibu memberikan support yang positif atas keputusan saya saat itu. Rasanya begitu lega, atas apa yang terjadi dalam bagian hidup saya, menjadi cerita tersendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Subhanallah, apa yang saya azzamkan dari hati tercapai, dan alhamdulillah saya berhasil pulang pergi dengan jilbab melekat di kepala dengan hati senang, sebab hari itu saya dapat memulai berjilbab dari diri sendiri dan dari hati, sekaligus memantapkan niat saya selepas dari bangku Tsanawiyah untuk belajar merantau di Pondok Pesantren dan berjilbab di setiap hari. Semoga Allah SWT selalu memberikan kekuatan dan perlindungan kepada saya untuk selalu berada di jalan-Nya melalui jilbab. Amin Ya Rabbal ‘alamin.

You Might Also Like

0 komentar