BEASISWA…OH BEASISWA

Juni 09, 2017



Selepas mengenyam bangku Madrasah Aliyah di sebuah Pondok Pesantren Putri di Jember, aku melanjutkan studi ke sebuah perguruan tinggi Islam negeri di kota Malang. Kota ini sengaja aku pilih sebab selain suasana kondusif untuk studi, juga ada teman yang terlebih dulu kuliah di sana. Walhasil, aku sengaja tak membuat pilihan lain untuk studi di PTAIN tersebut. Jurusan Bahasa dan Sastra Arab adalah jurusan yang aku pilih, karena aku percaya aku punya kemampuan dasar dalam Bahasa Arab dan sengaja aku mencari jurusan yang tidak ada matematikanya. Entahlah matematika adalah momok bagiku.
Alhamdulillah, akupun diterima di PTAIN tersebut. Hari demi hari,bulan demi bulan dan tahun demi tahun kulalui bersama teman-temanku. Beragam suasana kehidupan kukecap bersama mereka. Ada kalanya kegembiraan kala nilai-nilai KHS memuaskan begitu pula kesusahan yang kurasakan terutama untuk mengurus pendaftaran beasiswa. Dulu, semasa kuliah S1 mendapatkan beasiswa di kampusku susahnya minta ampun. Selain IPK yang harus strandar 3,50 prestasi di bidang non akademik juga ikut dipertimbangkan. Aku pernah mencoba memasukkan berkas pendaftaran beasiswa, dan tidak berhasil. Sedangkan ada beberapa teman yang berkali-kali menerima beasiswa. Ah, entahlah aku juga tak habis piker, mengapa saat studi S1 aku tak pernah berhasil mendapat beasiswa.
Setelah wisuda S1, aku pulang kampung. Seluruh pakaian dan buku-buku aku bawa pulang, sebagian aku titipkan pada adik kelasku di kost. Jujur, Papa memiliki motivasi yang besar untuk terus mendorong cita-citaku, untuk menjadi dosen. Papa mendapatkan informasi dari sepupuku bahwa kualifikasi dosen di tahun-tahun mendatang minimal adalah S2. Akhirnya Papa mantap membiayai studiku ke jenjang S2. Sebenarnya aku tak enak hati pada Papa, karena beliau harus terus menerus membiayaiku. Namun Papa dan Mama selalu mengiyakan agar aku tetap melanjutkan S2. Bismillah….di tahun 2003 akupun melanjutkan S2 di PTAIN tempatku studi S1 dulu. Pembelajaran Bahasa Arab (PBA) adalah konsentrasi program studi yang aku pilih. Saat itu aku bertekad akan mencari pekerjaan untuk kebutuhan hidupku sehari-hari. Alhamdulillah, aku diterima sebagai Murobbiyah (pendidik) di Ma’had kampus. Tugasku adalah mengawasi dan mengajar mahasiswa selama satu tahun di Ma’had (Pondok). Selain itu aku mengajar di Program Khusus Perkuliahan Bahasa Arab (PKPBA) di kampus. Program ini wajib diambil bagi seluruh mahasiswa S1 semua jurusan. Alhamdulillah, tiap bulan aku tidak pernah meminta uang saku pada Papa dan mama. Akupun pernah mengajukan beasiswa untuk menulis tesis ke sebuah kementerian, namun lagi-lagi aku tak berhasil.
Pasca wisuda, aku mengikuti tes cpns di kampusku dan Alhamdulillah aku diterima sebagai dosen di jurusan Bahasa dan Sastra Arab. aku sebenarnya lelah untuk melanjutkan studi kembali. Bayangan mengejar beasiswa ternyata benar-benar mengejarku. Ketentuan kampus yang mengharuskan dosen untuk berkualifikasi S3 membuatku untuk bersiap-siap mengejar beasiswa lagi. Biaya studi S3 yang melambung membuatku berusaha sekuat tenaga untuk mencari beasiswa. Di tahun 2009 dan 2010 aku dan teman-teman dosen mengikuti tes Beasiswa Studi salah satu kementerian. Dua kali aku mengikutinya, hingga uang pendaftaranku lenyap (karena aku gagal), sayangnya aku tidak berhasil. Teman-teman menganjurkanku untuk kuliah dengan biaya sendiri, b=namun aku mengurungkan niatku. Barangkali bukan rizkiku, rizki anak-anak dan suamiku di tahun 2009 dan 2010 untuk lanjut S3.
Tes beasiswa studi tahun 2011 datang lagi. Dengan semmangat ’45 aku mengurusi berkas-berkas pendaftaran, membayar biaya pendaftaran dan mengikuti tes. Yang kulakukan hanyalah berusaha dan berusaha, berdoa, dan tawakkal atas segala hasil yang Allah berikan. Jika memang beasiswa itu adalah rizkiku, maka tak akan lari kemana. Dag-dig-dug hatiku saat membaca pengumuman, dan melihat sederet namaku tertulis di pengumuman. Alhamdulillah Ya Allah….inilah jawaban Allah…disaat S1 dan S2 aku belum pernah mendapatkan beasiswa, ternyata beasiswaku diturunkan untuk studi S3. Alhamdulillah…terimakasih ya Allah. Sesungguhnya Allah Maha Tahu apa yang akan terjadi dalam kehidupan setiap hamba-Nya. Fabiayyi ‘ala irobbikuma tukadzdziban…. (Maka nikmat Allah yang mana yang kamu dustakan). Berburu beasiswa untuk studi merupakan sebuah rizki yang kita tidak tahu kapan ia akan mendatangi kita. Yang terpenting adalah tetap bersemangat, berusaha, berdoa dan tawakkal adalah kunci semua keberhasilan dan selalu bersyukur atas apa yang telah kita miliki, maka Allah akan menambah rizki kita. Wallahu a’lam.

You Might Also Like

0 komentar