BERKAH SILATURRAHMI

April 07, 2017


  Aku terlahir menjadi anak sulung dari empat bersaudara, adikku ada tiga orang. Alhamdulillah aku dan dua adikku telah berumah tangga, tinggal adik laki-lakiku nomor tiga yang masih belum menikah. Kami tinggal di kota yang berjauhan dengan Papa dan Mama, hanya adikku nomor tiga yang masih tinggal bersama kedua orang tua. Karena kami berjauhan, telepon adalah sarana penghubung komunikasi antara aku dan Papa Mama di rumah.

***
Dua minggu lagi lebaran akan tiba. Saat itu aku bersahur bersama adik perempuanku. Kebetulan suaminya sedang keluar kota dan suamiku pulang kampung tepatnya di luar Jawa untuk beberapa bulan. Telepon berdering dari adik laki-lakiku di rumah mengabarkan bahwa Papa sedang sakit keras dan ingin segera berjumpa dengan anak-anaknya. Duh…hati siapa tak akan bersedih mendengar berita itu. Dengan menahan tangis aku dan adikku meneruskan sahur dengan setengah hati. Pikiranku berkecamuk, mana aku sendirian? bagaimana dengan anak-anakku? Segera kuhubungi suami mengabarkan berita tersebut, lalu kutelepon travel dan alhamdulillah ada dua kursi kosong untuk kami (aku dan adikku). Pagi menjelang subuh kulalui dengan kesibukan yang luar biasa dan hati tak menentu. Setelah berkemas-kemas membawa beberapa baju, susu, membangunkan anak-anakku yang masih kecil-kecil, lalu bersegera mengambil uang di pagi buta menuju ke sebuah ATM dan menunggu travel pada pukul 05.00 pagi.
***
Kutinggalkan rumah dengan perasaan gundah. Gambaran sakit Papa dan bayangan takut terjadi apa-apa dengan beliau silih berganti menghampiri pikiranku. Sepanjang jalan aku sibuk menangis…menangis…dan menangis. Aku ingin segera berjumpa dengan Papa.
Selang setelah kurang lebih lima jam, akhirnya aku tiba di rumah. Mama dan adik laki-lakiku menyambut kedatangan kami dengan suasana haru. Aku dan adikku langsung menuju kamar Papa. Kami berpelukan dan bertangisan. Kulihat wajah beliau pucat, dengan bantuan tumpukan bantal Papa berbicara beberapa patah kata tentang sakitnya. Kata adik laki-lakiku sudah dua hari beliau tak mau duduk atau berbicara, namun kedatanganku dan adikku serta kedua cucu Papa membuat beliau kembali menjadi segar, uniknya beliau mau berbicara, tersenyum seraya tertawa dan bersenda gurau dengan kedua cucunya. Alhamdulillah, aku percaya Papa akan segera pulih kembali. Ternyata selain beliau sakit secara fisik, secara rohani beliau sedang kangen pada anak-anaknya. Lama tak berkumpul bersama sebab jarak dan kesibukan membuat aku dan adikku tak bisa sering-sering mengunjungi Papa dan Mama.
***
Dua hari aku, adikku serta kedua anak-anakku di rumah membuat kondisi Papa bertambah segar dan pulih. Beliau sudah bisa pergi ke kamar mandi sendiri, solat dengan berdiri, enak makan dan yang terpenting beliau sudah bisa beraktifitas seperti sedia kala. Papa itu orang yang rajin, beliau senang berkebun. Hobi berkebunnya membuat halaman depan dan samping rumah ditumbuhi aneka macan tanaman buah dan sayur mayur, walhasil Mama terkadang tak perlu lagi untuk berbelanja sayuran. Hanya saja Papa perlu banyak istirahat, menghindari banyak pikiran dan menjaga pola makan.
***
Papa adalah segalanya buat kami anak-anaknya. Bagiku Papa seorang pendidik sejati, beliau tak pernah letih berusaha dan berdoa untuk mengantarkanku dan adik-adikku menuju gerbang kesuksesan di dunia dan akhirat. Sejak Papa sakit, aku selalu menelepon beliau setiap dua minggu sekali, sekedar menanyakan kabar kesehatan beliau dan bercerita seputar keseharianku dan anak-anakku, tak lupa celotehan cucu Papa juga sering kuperdengarkan. Karena barangkali beliau kangen pada cucu-cucunya. Di hari libur sekolah anakku, kusempatkan untuk pulang, menemui Papa Mama dan mengajak anak-anakku untuk bermain bersama kakek dan neneknya. Kegiatan ini selain dapat menghilangkan kejenuhan juga mengobati rasa kangen Papa Mama pada anak-anak dan cucu-cucunya. Sebab Papa sudah tua, untuk melakukan perjalanan jauh terkadang sudah tak kuat lagi. Alhamdulillah kesehatan Papa semakin membaik dari hari ke hari.  Alhamdulillah berkah silaturrahmi antara anak dan orang tua membuat semangat untuk selalu sehat dan menebar senyuman terus menerus tersebar. Benar kiranya hadits Rasulullah yang mengatakan, bahwa silaturrahmi dapat memperpanjang umur. Dengan sering bersilaturrahmi akan membawa kebaikan dan kecintaan antara orang tua dan anak, dan antara sesama muslim.

You Might Also Like

0 komentar