BELAJAR MENGHARGAI WAKTU

April 28, 2017


                                                           wordsondesert.wordpres.com

Pagi ini adalah hari pertama aku mengajar di desaku. Keputusan untuk mengabdikan diri telah menjadi alternatif pilihan yang menurutku terbaik. Sudah tiga tahun aku resign dari mengajar  TK di salah satu kota pendidikan terbesar di Jawa Timur. Pulang kampung dan mengabdikan diri untuk mengajar di sebuah Madarasah Aliyah Swasta menjadi tujuanku. Itung-itung ikut serta memperbaiki wajah pendidikan Indonesia, agar tidak terindikasi jelek di mata dunia, khususnya bagi daerahku di Nusa Tenggara Timur.
Dengan semangat ’45, pukul 06.30 aku berangkat dengan menaiki sepeda motor Suzukiku. Jarak sekolah yang lumayan jauh membuatku harus lebih pagi bersiap-siap diri, apalagi aku guru baru di Madrasah Aliyah itu.
Sesampai di lokasi sekolah, aku bersegera memarkir motorku. Suasana lengang, tak ada satu orang murid pun atau guru yang lalu-lalang di sekolah. Pintu-pintu sekolah dan ruang guru tertutup. Kulirik jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 06.45 menit, lima belas menit lagi sudah pukul 07.00 tepat, dan aku berada di tengah sekolah yang melompong, tak ada satupun manusia disini. Aku duduk di bangku kayu depan kelas seraya mencoba menghubungi seorang guru, tiba-tiba seorang penjaga sekolah menghampiriku. “Pak Guru sudah datang? Pagi sekali?” Penjaga sekolah tersenyum menatapku seraya mengusap peluh yang membanjiri di lehernya. Alisku berkerut mendengar pertanyaannya.
“Sekolah libur hari ini Pak?” tanyaku serius.
“Masuk Pak Guru, nanti pukul 09.00 mereka tiba?” katanya sembari duduk di dekatku.
“Pukul 09.00? Mereka pada kemana?” tanyaku lagi.
“Lho…Pak Guru pasti guru baru ya? Sekolah ini baru mulai jam 09.00 tepat. Tidak ada cerita masuk pagi seperti sekolah-sekolah biasanya?”
“Hah?! Jam 09.00?” aku kaget mendengarnya. Terpaksa aku pulang kembali  ke rumah bibiku.
Sebelum pukul 09.00 aku sudah bertemu Kepala Sekolah dan menanyakan asal muasal masuk sekolah menjadi pukul 09.00. lalu ketika rapat guru aku mengusulkan untuk merubah jadwal masuk sekolah untuk kembali normal seperti biasa.
“Bapak Ibu Guru, sebelum kita membiasakan siswa-siswa kita untuk disiplin. Kita harus lebih disiplin. Sebagai panutan harus memberikan contoh teladan yang baik. Untuk masuk sekolah, saya usul agar kembali masuk pukul 07.00 tepat. Bagaimana siswa akan menerima materi pembelajaran yang sempurna, jikalau jam belajar mereka telah dikurangkan. Mohon dimengerti, ini adalah disiplin waktu yang nantinya berpengaruh pada sistem kegiatan belajar dan mengajar di sekolah kita” kataku dengan lantang.
Banyak guru yang meragukan niat baikku, namun kabar baiknya Kepala Sekolah mendukung ideku. Di hari pertama aku masuk sekolah, aku memberikan sosialisasi tentang perubahan jadwal masuk sekolah mulai besok pagi. Beberapa siswa ribut, kelas-kelas menjadi hingar bingar sebab kedatanganku telah membawa perubahan bagi peraturan sekolah mereka. Kubiarkan mereka ribut dan aku menunggu hari esok dengan perubahan baru.
Esok paginya, pukul 06.30 barisan guru-guru telah berdiri di depan sekolah. Satu, dua dan beberapa murid telah menginjakkan kaki mereka di sekolah, walau tak banyak, bagiku ini sebuah kemajuan besar. Pukul 07.00 tepat pembelajaran telah dimulai, ada atau tidak ada siswa, yang penting pelajaran harus dimulai. Kulihat banyak siswa yang berlari tunggang langgang menuju sekolah. Aku tesenyum menatap mereka.
Sebuah perubahan besar memang membutuhkan usaha yang besar dan semangat untuk maju. Allah tidak akan merubah sebuah kaum jikalau kaum itu tak merubah diri mereka sendiri. Semangaaat. 

                                                        dpbbmcinta.blogspot.com

You Might Also Like

0 komentar