TERIMAKASIH PAPA UNTUK SEGALANYA

Maret 21, 2017



Bagiku Papa adalah sosok orang tua yang sangat perhatian pada anak-anaknya, apalagi dalam urusan sekolah. Aku harus bersyukur pada Allah SWT. yang telah memberikan kesempatan untuk menjadikanku bagian dalam hidup Papa. Papaku seorang karyawan di salah satu kantor kementrian, sekarang beliau sudah memasuki masa pensiun. Papa adalah orang tua yang sangat mengapresiasi apapun yang dilakukan anak-anaknya. Untuk urusan sekolah, aku dan adik-adikku lebih mengandalkan Papa, mungkin karena Papa dianggap lebih paham soal sekolah beserta tetek bengeknya, sehingga Mama pun setuju menyerahkan hal-hal yang berhubungan dengan sekolah pada beliau..
Dua puluh tahun yang lalu selepas lulus dari Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) di Bondowoso, aku sempat bingung menentukan langkah untuk melanjutkan sekolah. “Rencana mau melanjutkan kemana nak?” tanya Papa padaku suatu malam sepulang mengaji. “Fitri punya dua pilihan Pa, ke Madrasah Aliyah atau masuk pondok pesantren, kok Fitri bingung ya?”. “Ndak usah bingung, katanya Fitri pengen bisa Bahasa Arab, ya masuk pondok saja.” saran Papa serius sembari membolak-balik buku bacaannya. Iya, sebenarnya aku iri banget sama adikku si Firman. Lulus Sekolah Dasar (SD), Papa sengaja memasukkannya di pondok pesantren supaya pintar agama. Dapat dua tiga bulan di pondok pesantren adikku ini sudah mahir menulis surat berbahasa Arab dan fasih berbicara Arab. Wuih…serta merta diriku panas juga, sebab aku kakaknya sudah MTs kok belum lancar dan paham Bahasa Arab. Kejadian itu menarik minatku untuk memasuki pondok pesantren dan belajar bahasa Arab dari nol.
Akhirnya setelah bermusyawarah, akupun menyetujui saran Papa untuk meneruskan sekolah di sebuah pondok pesantren. Sebuah pengalaman baru dan perjalanan panjang bagiku, sehingga aku menjadi seperti sekarang.
“Kita istirahat dulu ya? duduk-duduk disini dulu” Papa mengamit tanganku mengajakku duduk di bangku permanen di terminal. Bau bis membuat kepalaku pusing, aku mabuk, maklum belum pernah jalan jauh dari rumah. Padahal jarak pondok pesantren dari kotaku kurang lebih dua jam. “Ndak terlambat Pa?” tanyaku sambil meringis dan membalur ulu hati dan perutku dengan minyak kayu putih. Papa merapikan barang-barang bawaanku. “Ndak, kan pendaftaran baru di tutup nanti sore, kalau Fitri sudah agak segar kita berangkat lagi”. Aku tersenyum seraya merebahkah punggungku sebentar pada koper bawaanku.
Aku dan Papa sudah sampai di sebuah pondok pesantren di bilangan kecamatan Balung Jember. Lingkungan yang asri dan wajah-wajah santriwati yang ramah menyapaku dan Papa untuk pertama kalinya. Kami menunggu di kantor pengurus pondok, mengisi formulir pendaftaran, membayar uang pangkal, uang gedung, spp dan makan untuk satu bulan serta membeli lemari pakaian. “Mari saya tunjukkan kamarnya dik” seorang santriwati bertubuh mungil mengajakku untuk mengikuti langkahnya menuju kamar tempat aku tinggal. Aku pun bertemu dengan teman-teman baru di sini. Selepas asar Papa pamit dan meninggalkanku sendiri, menempa diri untuk mandiri dan belajar ilmu agama serta bahasa Arab.
Ketika masa pengabdian datang, aku mendapat tugas untuk mngabdi selama setahun di dalam pondok. “Pa, alhamdulillah Fitri mengabdi di dalam pondok” kataku pada Papa ketika beliau menelpon ke Pondok. “Tapi, Fitri ingin langsung kuliah saja, tidak usah mengabdi” tambahku. Aku sempat protes pada Papa karena lima tahun di pondok adalah waktu yang sangat lama. ”Nak, setahun ini tidak lama, cobalah mengabdi dulu. insya allah ada hikmahnya. Siapa lagi yang akan mengajari generasi penerus kita kalau bukan kita sendiri?” kata Papa panjang lebar sembari mengutip kata-kata Ustadz Pondokku. Akupun menerima keputusan Papa dengan setengah hati, walaupun aku juga yakin bahwa apa yang akan kulakukan setahun di pondok ini tidaklah sia-sia. Dan aku berhasil melakukannya. Mengajar adalah  sebuah passion bagiku, untuk mengamalkan ilmu-ilmu yang telah kuperoleh. Ladang kebaikan yang Insya Allah akan membawaku menuju kebaikan dan keberkahan di dunia dan akhirat. Amin.
Alhamdulillah kini aku telah bergelar S2, dan sedang menempuh program doktor. “Alhamdulillah nak, inilah hikmahmu selama belajar di pondok. Kecintaanmu pada Bahasa Arab telah mengantarkanmu untuk terus bergelut dalam Bahasa Arab, menjadi dosen Bahasa Arab dan memajukan Bahasa Arab, Alhamdulillah” ujar Papa suatu sore saat aku pulang kampung bersama suami dan anak-anakku. Papa terlihat penuh syukur , bahagia dan lega telah mengantarkanku dan juga adik-adikku untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan layak bagi anak-anaknya.
Terimakasih Papa dan Mama atas semua cinta, kasih sayang, perhatian dan doa selama ini. Semoga Papa dan Mama selalu sehat dan berbahagia slalu. Amiiin Allahumma Amin.


You Might Also Like

0 komentar