FLORES PILIHANKU

Maret 28, 2017


 

Bagiku usia pernikahan yang matang adalah diatas 25 tahun, karenanya aku berniat menikah saat usiaku di 27 tahun, sebelum kepala tiga. Mencari pendamping hidup yang sayang pada keluarga besarku susah-susah gampang, namun berkah ridho Allah aku dipertemukan oleh belahan jiwaku, seorang pria berdarah timur tepatnya pulau Flores Nusa Tenggara Timur. Dan aku memutuskan untuk menikah disaat stusi  S2 ku disemester tiga sedangkan suamiku baru lulus dari S1nya.
Mengenal seseorang yang berbeda budaya denganku penuh dengan tantangan. Aku menamainya dengan perjalanan hidup. Begitupula dengan persoalan izin keluarga besar suami disaat kami (aku dan suami) hendak menikah. Di tahun 2004 saat hp belum ada, adapun yang punya hanyalah orang-orang berkantong tebal. Kami menelepon keluarga suami nun jauh disana, karena suami saat itu sedang kuliah di Jawa. Pembicaraan  seputar keinginan kami yang hendak membina rumah tangga dan biaya pernikahan. Pihak suami masih akan merundingkan permasalahan rencana pernikahan kami dengan seluruh keluarga besarnya di Flores. Beberapa minggu kemudian, izin itu turun. Keluarga besar suami setuju akan berbesanan dengan keluargaku.
Setelah keluarga besarku dan suami menyetujui rencana pernikahan kami. Maka ditentukanlah tanggal dan hari pernikahan yang dilaksanakan di rumahku. Mengurus acara pernikahan ternyata susah-susah gampang. Bawaannya selalu pusing, ribet, dan takut. Awalnya aku dan suami mengurusi izin pernikahan dan mendaftarkan pernikahan ke KUA setempat. Harus bolak-balik Malang Bondowoso, apalagi suami harus mendapat catatan surat izin pindah nikah dari daerah asalnya. Surat-surat itu dilayangkan melalui pos kilat khusus. Setelah proses pendaftaran nikah di KUA rampung, aku dan suami membuat desain undangan. Kami sepakat memilih warna hijau untuk warna undangan, selain segar, aku sangat menyukai warna hijau. Alhamdulillahnya lagi, sepupu dan suaminya membantu kami untuk membuatkan undangan, sehingga persoalan cetak undangan ditanganinya. Kami hanya membuatkan desain kasar saja. Dan hasilnya….? Wow! Undangan nikah kami keren banget, berbentuk persegi panjang dengan tiga lipatan. Kesan mewah dan elegan terpancar dari undangan nikah kami. Setelah itu Papa, Mama, aku dan suami menentukan undangan siapa-siapa yang akan kami undang untuk menghadiri pernikahan kami, karena aku anak perempuan pertama, Papa ingin pernikahan dirayakan, berbeda dengan anak laki-laki. Begitulah tradisi di daerahku. Sebuah daerah kecil berbatasan dengan Situbondo dan Jember, kota berhawa dingin yang terkenal dengan sebutan kota Tape.
Selain undangan yang dicetakkan gratis untuk pernikahanku. Sepupu dan suaminya menghadiahkan kain broklat putih perak dan sandal untuk pernikahanku, barang-barang itu masih tersimpan hingga kini, walau mereka berdua telah meninggal, aku benar-benar merasa terbantu dengan bantuan mereka berdua (terimakasih buat Mbak Aan dan Om Lukas atas segala bantuannya, aku tak akan melupakannya. Al-Fatihah).
Saat proses menyebar undangan, aku juga telah menghubungi perias pengantin. Aku mendapatkan diskon untuk menyewa baju dan background nikah. Alhamdulillah, aku dibantu lagi. Aku memilih empat buah baju dengan warna hijau, hitam, ungu adat Jawa, dan kuning khas luar Jawa. Sedang saat akad nikah aku mengenakan kebaya broklat putih perak pemberian sepupuku. Selain itu aku juga reservasi hotel di kotaku untuk tempat transit orang tua angkat suamiku. Orang tua kandung suamiku tidak dapat hadir, selain jarak yang jauh juga keterbatasan biaya. Namun hal ini tak menyurutkan niat kami berdua untuk bersegera membangun rumah tangga, begitu pula dengan kedua orang tuaku untuk menikahkanku dengan calon suamiku.
Seminggu sebelum menikah, aku pulang ke rumah. Kesibukan serta merta terjadi di rumahku. Ibu-ibu tetangga dan sanak saudara sedang membantu mempersiapkan acara pernikahanku. Pokoknya auranya seperti acara reunian keluarga. Keluarga-keluarga yang jauh berdatangan dan bersama-sama membuat bumbu daging, membuat aneka macam kue-kue dan membuat dodol khas daerahku yang memang ada hanya pada saat pernikahan saja.
Kesibukanku juga luar biasa, aku sengaja mempersiapkan diriku secara jasmani dengan merawatnya dengan lulur khas Arab layaknya calon pengantin perempuan lainnya, mendekorasi kamar pengantin dan membantu membuat dan mengemas kue-kue. Sedangkan suamiku di Malang juga sibuk mengundang saudara dan teman-teman dekatnya untuk hadir ke pernikahan kami. Namun mempersiapkan batin ternyata membutuhkan waktu yang lumayan lama bagiku, sebab akan memasuki fase baru dalam menjalani kehidupan yang sesungguhnya.
Dua hari lagi acara pernikahanku, di pagi hari ibu-ibu makin bertambah sibuk dan berdatangan ke rumahku untuk membantu Mama membuat dodol. Ada tiga kuali besar dipersiapkan, dan aku sebagai calon pengantin diminta untuk menyalakan apinya. Setelah itu dimulailah proses pembuatan dodol yang lumayan lama, hampir setengah hari. Dan kue berbahan tepung beras, santan, gula merah dan kelapa itupun siap. Selain itu, tenda di depan rumah sudah didirikan. Bapak-bapak sibuk mendirikan tenda dan beberapa saat kemudian background pelaminan pun datang, kami menyebutnya kuade. Kemudian beberapa anak muda menganyam daun janur dan membuat ukiran untuk kembang mayang, yaitu bunga untuk hiasan di sisi kanan kiri pelaminan, sedangkan adik laku-lakiku membuat tulisan berucap “Ahlan wa Sahlan” selamat datang. Bunyi kaset lagu-lagu khas daerahku pun mengalun menandakan si pemilik rumah sedang menggelar acara pernikahan.
Malam berjalan begitu lambatnya. Semua persiapan tenda, kuade, kue-kue, daging masakan dan reservasi hotel sudah siap. Keluarga angkat suami sudah di tengah perjalanan, dan jam 23.00 sampai di kotaku Bondowoso. Mereka semua beristirahat di hotel. Sedangkan jam 21.00 calon suamiku, saudara serta teman-temannya telah tiba. Alhamdulillah, tak ada aral merintangi perjalanan calon suamiku dan keluarga angkatnya. Aku menyegerakan diri untuk tidur, beristirahat. Esok hari kan kujelang hari pernikahanku, dengan penuh asa baru.
Jam 07.00 pagi rumahku telah ramai. Para undangan dan keluarga angkat calon suami berdatangan pada acara akad nikahku. Tepat pukul 08.00 pada tanggal 26 November 2004 hari Jum’at, aku telah resmi menjadi istri dari suamiku. Alhamdulillah akad nikah berjalan lancar. Hadir Ustadz Shodiq sebagai pemberi mau’idhoh hasanah dan KH. Masruri, Lc pengasuh Pondok Darul Istiqomah sebagai pemimpin doa. Aku menunggu proses akad nikah itu dengan hati dag-dig-dug. Setelah pembacaan doa, aku pun bersalaman pada Mama, adik-adikku, Bu Lek, dan para undangan putri yang hadir, sedang suamiku menyalami seluruh undangan putra yang datang. Alhamdulillah, subhanallah….aku telah menyempurnakan agamaku. Di siang sore dan malam harinya hadir kerabat, teman-temanku dan suami ikut merasakan bahagia yang kami ukir. Terimakasih ya Allah, Engkau telah mengizinkan aku untuk hidup bersamanya, mengarungi bahtera kehidupan dari nol hingga kini di usia pernikahan yang memasuki  tahun ke-13, Allah telah mengamanatkan pada kami untuk memiliki tiga buah hati hasil cinta dan kasih sayang kami. Seluruh prosesi pernikahan ini tak akan pernah terlupakan, hingga maut memisahkan kita berdua. Semoga pernikahan ini membawa berkah dan kebaikan bagi kehidupan kami kelak, dan semoga SAMARA slalu.  Amin.


You Might Also Like

0 komentar