Resensi Film: Akeelah and The Bee

Juli 30, 2016


twitter.com

Terharu, bangga dan penuh perjuangan patut disematkan pada film bergenre remaja ini. Film yang diproduksi oleh Starbucks Entertaiment menceritakan seorang gadis berkulit hitam bernama Akeelah, berusia 11 tahun dan sedang mengenyam di bangku sekolah menengah Crenahaw Los Angeles Selatan.

Akeelah tinggal bersama seorang ibu dan dua orang kakak perempuan dan laki-laku. Sang ayah meninggal disaat usia Akeelah 6 tahun. Akeelah tumbuh menjadi anak yang pandai dalam beberapa mata pelajaran, termasuk pelajaran mengeja kata. Karena pintar seringkali dia menjadi korban bulliying teman-teman perempuannya untuk mengerjakan tugas-tugas pe er mereka.

Berawal dari Ny. Cross guru kelas Akeelah melihat bahwa gadis ini memiliki bakat dan ingatan kuat dalam pelajaran mengeja memintanya untuk mengikuti lomba mengeja, namun Akeelah merasa tidak pantas untuk maju ke panggung untuk berlomba. Beberapa hari kemudian, Akeelah memutuskan untuk mencoba mengikuti perlombaan SKIP Nasional lomba mengeja di Washington DC mewakili sekolah tingkat distrik. Maka dilakukanlah seleksi mengeja tingkat sekolah yang dimenangkan oleh Akeelah. Awalnya Akeelah masih salah dalam mengeja dan hal ini sempat menjadi bahan tertawaan beberapa teman-temannya. Akeelah sedih dan ingin menggagalkan rencana keikutsertaan pada lomba mengeja. Dr. Joshua Larabee ketua di Departemen Bahasa Inggris  di UCLA dan akan menjadi coach Akeelah dalam berlatih mengeja berkata: "Bila kau berdiri dikakimu kau mungkin akan dihargai"

Hari demi hari Akeelah pun mulai membaca buku-buku tebal dari bahasa Yunani dan Perancis serta belajar mengeja kata-kata dengan metode bahasa dengan memahami kekuatan bahasa lalu dengan mengkonstrukai ulang dan memisahkan kata-kata sampai pada akar-akarnya. Metode ala Dr. Larabee dilahap habis oleh Akeelah.

Ketika Akeelah diatas panggung konsentrasinya buyar karena mamanya marah, ternyata Akeelah berbohong dengan menandatangani surat pernyataan untuk mengikuti lomba atas nama ayahnya. Namun Mamanya mengerti dan mendukung Akeelah yang akhirnya menyabet juara tiga.

Sosok Dylan sebagai rival Akeelah dalam perlombaan mengeja ini sempat menjadi konflik film garapan Dough Atchison. Dylan si jawara mengeja tingkat regional tiga tahun berturut-turut ini sebenarnya sosok anak korban ambisi ayahnya yang menginginkan Dylan harus dan selalu menjadi juara satu.

Setelah Akeelah menjadi juara, banyak peristiwa yang membuatnya bersedih. Coach dan Georgina sahabat Akeelah mulai menjaga jarak, akan tetapi Mamanya berhasil meyakinkannya bahwa ia akan mempunyai 50.000 pelatih untuk menemaninya belajar.

Walhasil, film yang dibintangi Keke Palmer ini banyak memberikan nilai-nilai kegigihan untuk mencapai tujuan dengan sikap sportif dan menerima semua ketentuan akhir dari usaha yang dilakukan.

You Might Also Like

0 komentar